Rahasia Komit Interbintang 3I/ATLAS: Terbentuk di Wilayah Paling Gelap dan Dingin

6 hours ago 1
Rahasia Komit Interbintang 3I/ATLAS: Terbentuk di Wilayah Paling Gelap dan Dingin Astronom berhasil meneliti partikel bermuatan pada ekor komet interbintang 3I/ATLAS. Hasilnya menunjukkan komet ini lahir di daerah ekstrem yang tak tersentuh cahaya bintang.(NASA)

SUDAH lebih dari satu tahun sejak komet antarbintang 3I/ATLAS pertama kali mencuri perhatian dunia sebagai objek ketiga dari luar tata surya yang berhasil terdeteksi melintasi lingkungan antariksa kita. Hingga kini, para astronom masih terus mengungkap petunjuk baru mengenai dari mana sebenarnya objek asing ini berasal.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah astronomi, para peneliti berhasil menganalisis partikel bermuatan (ion) pada ekor komet interbintang tersebut. Dari analisis tersebut, terungkap 3I/ATLAS memiliki kandungan nitrogen yang jauh lebih tinggi dibandingkan komet biasa yang berasal dari sistem tata surya kita. Temuan ini memberikan petunjuk penting mengenai proses pembentukan objek unik tersebut.

"Menemukan bahwa komet ini sangat kaya akan nitrogen memberi tahu kita bahwa ia kemungkinan besar terbentuk dalam kondisi yang sangat dingin, jauh dari bintang induknya," ujar Lea Ferellec, seorang peneliti di Northumbria University, dalam sebuah pernyataan resmi.

Tim peneliti yang dipimpin Ferellec memanfaatkan Teleskop William Herschel yang berlokasi di Kepulauan Kanari, Spanyol. Mereka menggunakan instrumen serat optik canggih bernama WEAVE untuk menangkap data spektroskopi tersebut.

Sebelumnya, sebagian besar astronom hanya berfokus mengamati bagian koma, yaitu selubung gas yang terbentuk saat panas matahari menyublimkan es pada inti komet menjadi uap. Namun, koma bukanlah satu-satunya struktur yang terbentuk ketika komet mendekati matahari.

Saat berada lebih dekat, komet akan diterpa angin matahari berenergi tinggi yang mendorong materialnya hingga membentuk ekor yang khas. Dalam proses ini, partikel berenergi tinggi dari angin matahari menghantam molekul komet dan mengalirkan muatan listrik hingga menjadikannya ion bermuatan.

Identifikasi jenis ion pada ekor komet memungkinkan para ilmuwan untuk mendeteksi komposisi kimia yang tidak bisa diamati hanya melalui koma. Ketika komet interbintang 2I/Borisov melintas pada tahun 2019, para astronom sempat mendeteksi jejak ion tetapi gagal mengidentifikasi jenisnya secara pasti. Kehadiran instrumen WEAVE yang beroperasi sejak 2023 akhirnya memecahkan kendala tersebut.

Saat mengarahkan WEAVE ke komet 3I/ATLAS pada akhir 2025, tim berhasil menghitung ion nitrogen, karbon dioksida, dan karbon monoksida di ekor komet. Secara teoritis, komet yang memiliki rasio nitrogen terhadap karbon monoksida lebih tinggi cenderung terbentuk di tempat yang lebih dingin.

Berdasarkan perhitungan tim Ferellec, rasio pada 3I/ATLAS jauh melampaui mayoritas komet lokal di tata surya kita. Mereka mengestimasi komet ini lahir di lingkungan berdisparitas suhu ekstrem, yakni lebih dingin dari -240 derajat Celsius. Artinya, jika komet ini lahir di sistem bintang yang jauh, ia terbentuk di wilayah terluar, tempat di mana cahaya bintang induknya hampir tidak dapat menjangkaunya.

"Objek ini memberi kita kesempatan langka untuk mempelajari material yang terbentuk di tempat yang sepenuhnya berbeda dari tata surya kita sendiri," tambah Ferellec. "Setiap objek yang kita pelajari membantu kita memahami sedikit lebih banyak tentang bagaimana planet terbentuk di sekitar bintang lain." (Space/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |