Ratusan guru Madrasah mengikuti bimbingan teknis Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di aula MAN I Pidie, Aceh.( MI/Amiruddin Abdullah Reubee)
RATUSAN Guru Madrasah di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh ikut bimbingan teknis penggunaan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Mereka di edukasi cara menulis perintah agar komputer bisa bekerja. Berikutnya diajari untuk menguasai Kecerdasan Buatan (AI). Adapun mereka yang belajar koding diharapkan bisa menciptakan alat atau aplikasi cerdas.
Lalu dengan menguasai AI, akan dapat membantu pemograman menulis kode dengan lebih cepat. Dengan demikian, mereka mampu mengoperasikan teknologi mesin itu bisa berpikir dan belajar sebagaimana manusia.
Pembimbing TeknisTeknis KKA, Safri Ali, kepada Media Indonesia di sela-sela pelatihan pada Jumat (7/8) mengatakan, minat guru Madrasah di Pidie untuk mengikuti bimbingan koding dan artifisial sangat tinggi. Meskipun ini pelatihan perdana yang digelar dua hari yaitu Kamis dan Jumat, namun rasa ingin menguasai tergolong luar biasa.
Apalagi mereka para guru yang harus menguasai teknologi terkini untuk pembelajaran para murid di Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Dengan menguasai teknologi tersebut, tentu transfer ilmu kepada anak didik semakin mudah dan mengarah.
"Meskipun fasilitas yang dimiliki masih berbeda dan terbatas, tapi untuk menguasai koding atau artifisial itu sudah menjadi keharusan. Hanya tingkatan yang tidak sama. Ada tingkatan mereka belum memiliki komputer, ada juga sudah ada komputer dan ada lagi selain sudah pakai komputer ditambah lagi fasilitas jaringan internet," tutur Sari Ali.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kabupaten Pidie, H Samhudi, Pada Kamis (6/8) mengatakan, bimbingan teknis Koding dan Artifisial ini merupakan kebutuhan sesuai perkembangan teknologi terkini.
Apalagi sekarang zaman teknologi informasi teknologi (IT) yang setiap generasi perlu memahaminya. Bahkan oerkembangan teknologi yang sangat cepat itu harus selalu di sesuaikan dan diikuti.
"Ini sesuatu yang bagus. Nanti harus dipraktekkan di Madrasah serta berkelanjutan. Kemudian harus ada pendampingan. Agar sesuai dengan harapan," demikian antara lain disampaikan H Samhudi.
Ketua panitia pelaksana, Muhamad Thaifuri menyangka jumlah peserta yang terdiri dari para guru MI, MTs dan MA itu mencapai ratusan orang. Pihak panitia sempat mengira hanya sekitar 50an saja jumlah peserta.
Ternyata tingkat ingin menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tentang koding dan artifisial itu cukup tinggi di kalangan guru Madrasah yang bernaung di Kementerian Agama RI tersebut.
Padahal fasilitas yang disediakan oleh panitia di lokasi pelatihan aula MAN I Pidie tersebut masih terbatas. Ternyata para guru yang memiliki motto Iklas Beramal itu rela menyumbang biaya patungan dan membawa kompeter sendiri ke ruang bimbingan.
"Meskipun kehadiran teknologi di jajaran guru Kemenag mungkin tergolong terlambat, tapi antusiasme mereka tidak tertandingi. Ini tentu mereka memahami betapa pentingnya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi terkini" tambah pembimbing Safri Ali yang juga diamini Kepala MAN 1 Pidie, Muhammad Thaifuri. (MR/P-3))

















































