Warga melihat rumah yang rusak akibat gempa di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.(MI/Marianus Marselus)
PEMULIHAN pascagempa magnitudo 7,7 di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai bergerak dari fase tanggap darurat menuju pembangunan kembali hunian warga. Rumah yang rusak berat akan dibongkar, kemudian lahannya menjadi lokasi pembangunan rumah contoh hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap).
Salah satu rumah yang masuk dalam rencana tersebut ialah milik Elisabeth Daus di Kelurahan Compang Carep, Kecamatan Langke Rembong. Bangunan itu mengalami kerusakan lebih dari 71 persen akibat gempa. Alat berat telah diturunkan ke lokasi pada Selasa (8/9) untuk membongkar bangunan yang dinilai tidak lagi layak dihuni.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan Kabupaten Manggarai, Yustinus Mulyo Nanga, mengatakan pembongkaran dilakukan sebagai tahap awal pembangunan hunian baru. Rumah tersebut akan menjadi salah satu lokasi rumah contoh yang dibangun bersama BNPB.
“Kerusakan terjadi pada struktur dan non-struktur. Pada struktur, balok, tiang, dan atap mengalami deformasi. Sedangkan pada non-struktur, kerusakan terjadi pada dinding dan lantai,” kata Yustinus dalam Rapat Perdana Pascagempa di Kantor Sementara Pemkab Manggarai, Stadion Golo Dukal, Selasa (8/9).
Rumah contoh huntara akan memiliki ukuran 4 x 6 meter, sedangkan huntap berukuran 6 x 6 meter. Dua model tersebut nantinya menjadi acuan bagi pembangunan hunian warga lain yang rumahnya mengalami kerusakan berat.
Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa rekonstruksi pascagempa tidak berhenti pada pembongkaran bangunan yang rusak. Pemerintah harus memastikan rumah yang dibangun kembali memiliki standar keselamatan yang lebih baik dibandingkan bangunan sebelumnya.
Rumah contoh itu akan menjadi semacam prototipe yang dapat dilihat langsung masyarakat. Bentuk bangunan, ukuran ruang, material, serta konstruksinya dapat menjadi gambaran bagi warga penerima bantuan sebelum pembangunan dilakukan secara lebih luas.
Rencana pembangunan tersebut dibahas dalam rapat yang dipimpin Bupati Manggarai Herybertus G. L. Nabit, didampingi Wakil Bupati Fabianus Abu dan Plt. Sekda Kabupaten Manggarai. Para staf ahli, asisten, serta pimpinan perangkat daerah turut hadir dalam rapat tersebut.
Bagi warga yang rumahnya rusak berat, persoalan paling mendesak setelah gempa bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi memastikan mereka kembali memiliki tempat tinggal yang aman. Karena itu, pembangunan huntara dan huntap menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Pemkab Manggarai bersama BNPB menempatkan aspek keselamatan dan ketahanan bangunan sebagai bagian dari pembangunan pascabencana. Rumah contoh di Carep diharapkan menjadi awal dari proses rekonstruksi yang lebih terukur dari rumah yang runtuh akibat gempa menuju hunian baru yang dirancang untuk menghadapi risiko bencana di masa depan.(MM/E-4)















































