Ilustrasi(ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas)
LAHAN bekas tambang sering kali dipandang sebagai area yang mati dan kehilangan daya dukung lingkungannya. Namun, sebuah temuan terbaru di kawasan tambang emas Poboya, Sulawesi Tengah, mematahkan anggapan tersebut. Penelitian terhadap DNA tanah mengungkap bahwa area ini masih menyimpan komunitas mikroba yang tangguh dan berpotensi besar dalam pemulihan lingkungan.
Dr. Rahadian Pratama, dosen dari IPB University, menjelaskan bahwa keberadaan vegetasi menjadi kunci utama dalam pemulihan komunitas bakteri tanah. Menariknya, faktor vegetasi ini dinilai jauh lebih dominan dalam memengaruhi kesehatan mikrobioma tanah dibandingkan dengan riwayat aktivitas pertambangan itu sendiri.
“Tanah bekas tambang ternyata tidak sepenuhnya miskin spesies. Penanaman kembali atau revegetasi menjadi jalur yang sangat potensial untuk pemulihan mikroba di lahan bekas tambang,” ungkap Rahadian dalam webinar bertajuk “Ketika Vegetasi ‘Menyamarkan’ Jejak Tambang: Kisah DNA Tanah Poboya” yang digelar Departemen Biokimia IPB University bersama Dynata Inovasi Corporalab.
Teknologi Metagenomik Ungkap Potensi Tersembunyi
Temuan ini didapatkan melalui analisis mikrobioma tanah menggunakan teknologi canggih Oxford Nanopore Sequencing (ONT) dengan pendekatan metagenomik. Metode ini memungkinkan para peneliti untuk memetakan komposisi mikroorganisme secara detail sekaligus melihat potensi genetik yang tersimpan di dalam tanah.
Berdasarkan analisis sampel, tim peneliti menemukan konsorsium mikroba yang memiliki kemampuan metabolik khusus untuk bertahan hidup di lingkungan yang tercemar logam berat. Salah satu yang menonjol adalah bakteri dari genus Variovorax.
| Gen Pengurai Polutan | Mampu mendegradasi zat pencemar di lingkungan tambang. |
| Resistensi Logam Berat | Bertahan hidup meski terpapar konsentrasi logam tinggi. |
| Produksi Siderofor | Membantu mikroorganisme dan tanaman memperoleh zat besi. |
| Promosi Pertumbuhan | Mendukung pertumbuhan tanaman di lahan marginal. |
Bioremediasi Asli dari Sulawesi
Rahadian menegaskan bahwa analisis genom ini memberikan bukti konkret mengenai potensi bioremediasi asli (indigenous) dari tanah Sulawesi. Hal ini menjadi angin segar bagi upaya pemulihan lahan terdampak tambang, di mana mikroba lokal dapat dimanfaatkan untuk mempercepat kembalinya fungsi ekosistem.
Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya menjaga kekayaan genom di kawasan Wallacea. Sulawesi, sebagai bagian dari Wallacea, menyimpan sumber daya genetik yang sangat kaya namun masih minim penelitian. Rahadian menyarankan agar pemantauan mikrobioma dilakukan secara rutin, tidak hanya pada lahan bekas tambang, tetapi juga pada lahan yang mengalami alih fungsi menjadi area pertanian.
Dengan pemanfaatan teknologi sekuensing Nanopore, peluang untuk mengungkap rahasia keanekaragaman hayati di bawah tanah semakin terbuka lebar. Langkah ini diharapkan dapat menjadi landasan kebijakan dalam strategi pemulihan lingkungan berbasis sains di masa depan. (IPB University/Z-1)

















































