Atlet maraton Indonesia Robi Syianturi bersama anak-anak Belitung Run Club di Pantai Tanjung Pendam, Belitung.(MI/Dhika Kusuma Winata)
AWALNYA, Habibah, 17, tidak tahu siapa sosok yang beberapa kali berlari melintas di depan rumahnya. Dia hanya melihat seseorang berlari dalam rutinitas latihan. Sampai suatu hari, sang ibu memberi tahu pelari itu ialah Robi Syianturi, atlet asal Belitung yang sekarang menjadi pelari maraton terbaik di Asia Tenggara.
Dari perkenalan sederhana enam tahun lalu itu, ketertarikan Habibah terhadap lari mulai tumbuh setelah melihat langsung Robi berlatih. Dari sana, rasa ingin tahu Habibah tumbuh. Ia lalu mengikuti perjalanan Robi, termasuk ketika sang atlet tampil di kejuaraan nasional dan PON. Kesempatan menyaksikan Robi berlari secara langsung di Belitung semakin membuatnya tertarik menekuni olahraga tersebut.
"Saya lihat Bang Robi lari, terus ibu saya yang kasih tahu. Setelah lihat di media sosial, saya baru tahu perjalanan dia. Pernah juara Kejurnas dan PON juga," kata Habibah.
Habibah menjalani latihan santai bersama Robi di Pantai Tanjung Pendam, Belitung, Senin (10/8). Dia mengakui menekuni lari penuh tantangan. Pada awalnya terasa berat namun setelah terbiasa berlatih, ia mulai menikmati prosesnya.
Lingkungan pertemanan juga ikut mendorongnya. Seiring nama Robi makin dikenal, banyak teman-teman Habibah juga berlari. Latihan kemudian menjadi sesuatu yang ia nikmati bersama teman-temannya.
"Awalnya lihat teman, kelihatannya keren, jadi saya ingin coba. Di awal memang berat tapi setelah terbiasa saya menikmati prosesnya. Lama-lama seru dan akhirnya ramai-ramai," kata Habibah yang sekarang duduk di kelas 12 SMA.
Keluarganya juga memberi ruang agar ia bisa mengembangkan minat. Ia pernah tampil pada Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) dan menembus 10 besar. Ia juga mengikuti ajang lari di Bali serta Jakarta.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Habibah ingin melanjutkan usahanya di cabor lari. Dia berharap bisa ke level nasional.
"Saya kepingin sampai nasional bahkan mudah-mudahan internasional seperti Bang Robi lomba ke luar negeri," ujarnya.
Cerita Habibah bukan satu-satunya tanda tumbuhnya minat terhadap lari di Belitung. Junaidi, pelatih daerah yang dahulu membimbing Robi sejak masih sekolah, melihat perubahan itu secara langsung.
Junaidi merupakan sosok yang mendorong Robi untuk serius menekuni lari. Dari masa sekolah, ia mendampingi proses latihan Robi hingga akhirnya masuk ke pelatnas. Kini, Junaidi membimbing anak-anak Belitung.
"Efeknya positif sekali karena sekarang banyak anak-anak sekolah ikut latihan lari. Banyak yang ingin jadi atlet karena terinspirasi Robi," kata Junaidi.
"Saya sekarang pegang 30 anak-anak. Banyak anak lain ingin ikut saya, tetapi saya berbagi dengan pelatih lain karena saking banyaknya yang ingin berlatih," tambahnya.
Bagi anak-anak di daerah, sosok berprestasi yang mereka lihat bisa menjadi gambaran olahraga juga memiliki masa depan. Robi sendiri melihat perubahan tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, minat terhadap lari di Belitung semakin terlihat, terutama setelah pandemi Covid-19.
Anak-anak mulai menjadikan lari sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari untuk gaya hidup aktif. Maraknya pemandangan anak-anak berlari seperti di kawasan pantai di Belitung menjadi salah satu hal yang menurutnya menggembirakan. Robi juga menilai olahraga dapat memberi ruang bagi anak-anak untuk membangun kebiasaan positif.
"Terutama lima tahun terakhir setelah pandemi itu luar biasa anak-anak usia 8-10 tahun sudah menjadikan lari sebagai lifestyle. Dari yang tua sampai yang muda sudah mulai peduli kesehatan," kata Robi ditemui terpisah di rumahnya di Tanjung Pandan, Selasa (11/8).
Menurut Robi, bagi anak-anak yang serius berlatih olahraga juga dapat membuka peluang beasiswa pendidikan dan pekerjaan. Menurut Robi, atlet muda kini memiliki jalur yang lebih terbuka dibandingkan sebelumnya.
"Kalau sekarang dari kelas SMP sudah bisa diarahkan menjadi atlet. Setelah jadi atlet, mungkin bisa dapat beasiswa kuliah ataupun langsung pekerjaan. Kalau prestasinya bagus dan mendapat medali SEA Games, ada peluang mendapat penghargaan dari pemerintah," kata peraih medali emas SEA Games 2025 itu.
Dia berharap kebiasaan tersebut terus berkembang. Lari tidak harus berhenti sebagai tren atau aktivitas untuk menjaga kebugaran. Jika dikelola dengan serius, olahraga bisa menjadi pintu bagi anak-anak Belitung untuk membangun masa depan.
"Anak-anak mau bangun pagi untuk berangkat latihan itu sudah luar biasa menurut saya di zaman gadget sekarang. Kita ini cuma bisa kasih gambaran kalau dari lari kamu bisa dapat sesuatu dan dihargai orang. Sisanya tergantung diri sendiri," tukas Robi. (Z-10)

















































