Petugas mengisi BBM jenis Biosolar B50 di salah satu SPBU di Medan, Sumatra Utara, Rabu (22/7/2026).(Antara/Yudi Manar)
KETAHANAN energi menjadi fondasi penting dalam membangun sistem transportasi nasional yang tangguh, terintegrasi, dan berkelanjutan. Momentum Hari Perhubungan Nasional yang diperingati setiap 17 September menjadi kesempatan untuk memperkuat sinergi sektor energi dan transportasi, termasuk melalui pemanfaatan sumber energi domestik dalam memenuhi kebutuhan perhubungan lewat program B50.
Pengamat ketahanan energi, Feiral Rizly Batubara, menilai B50 dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia. Alasannya, sebagian kebutuhan energi transportasi tersebut dipenuhi dari sumber daya domestik. Menurut dia, hal tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan dinamika pasar global.
"B50 bukan sekadar kebijakan substitusi BBM. Ini bagian dari upaya membangun kedaulatan energi, yaitu kemampuan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan energinya dengan sumber daya yang dimiliki sendiri,” kata Feiral dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9).
Sebagaimana diketahui, saat ini sektor transportasi menjadi pengguna terbesar BBM secara nasional dengan porsi mencapai sekitar 50% hingga 91% dari total konsumsi energi fosil di Indonesia. Dalam suatu kesempatan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan sumber BBM dan minyak mentah yang didapat Indonesia berasal dari berbagai negara.
Ia menyebut pasokan BBM Indonesia 62% berasal dari Singapura, kemudian 35% Malaysia, dan 3% dari negara lain. Sementara untuk impor minyak mentah, 16% berasal dari Arab Saudi dan negara Afrika seperti Nigeria, Angola, Gabon, serta Kazakhstan.
Feiral mengatakan Hari Perhubungan Nasional ini bisa menjadi momentum penting bagi Pertamina. Sebagai BUMN penyedia energi di Indonesia, hadirnya program B50 ini dapat menjadi salah satu upaya nyata memperkuat ketahanan energi. "Semakin besar kemampuan memenuhi kebutuhan energi dari dalam negeri, maka semakin kuat kemampuan ekonomi nasional menghadapi tekanan eksternal," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara juga menilai pemanfaatan biodiesel dapat menjadi bagian dari strategi ketahanan energi. Menurutnya, penggunaan bahan bakar berbasis crude palm oil (CPO) menjadi salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya domestik untuk kebutuhan energi nasional.
Namun, Marwan menilai penguatan B50 perlu disertai pengelolaan pasokan bahan baku secara terintegrasi. Hal ini agar kebutuhan energi tetap berjalan seimbang dengan kebutuhan pangan dan industri lain. "Peran pemerintah dalam menjamin ketersediaan pasokan domestik menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatan biodiesel," kata Marwan.
Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga (PPN) telah mengumumkan target distribusi Biodiesel B50 ini akan mencapai 100% di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada akhir September atau Oktober 2026.
Saat ini distribusi B50 dilaporkan telah mencapai 95% di seluruh SPBU di Indonesia. Sekitar 5% wilayah yang belum sepenuhnya beralih berada di Papua dan Maluku, karena masih dalam tahap menghabiskan sisa stok B40. (I-2)


















































