IHSG Hari Ini 17 September 2026: Ditutup Menguat ke 6.462

3 hours ago 4
 Ditutup Menguat ke 6.462 ilustrasi(Antara)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (17/9) sore ditutup menguat. Pergerakan indeks terjadi di tengah sikap antisipasi pelaku pasar terhadap langkah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) pasca-kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS).

IHSG ditutup naik 25,58 poin atau 0,40% ke posisi 6.462,43. Sejalan dengan indeks utama, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga menguat 1,42 poin atau 0,22% ke posisi 648,38.

Indikator Pasar Posisi Penutupan Perubahan
IHSG 6.462,43 +0,40%
Indeks LQ45 648,38 +0,22%

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa penguatan ini terjadi saat pasar sedang mencermati tekanan yang dialami Bank Indonesia akibat kebijakan hawkish bank sentral AS, The Fed.

"Kenaikan suku bunga The Fed memberikan tekanan ke Bank Indonesia (BI) sehingga pasar menantikan langkah kebijakan moneter selanjutnya dari BI," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Dilema Kebijakan Bank Indonesia

Nico menilai BI saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi (pro-stability dan pro-growth). Di satu sisi, BI harus menjaga agar aliran modal asing tidak keluar secara masif (capital outflow), namun di sisi lain tetap harus mendukung momentum pertumbuhan domestik.

Pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026 mendatang untuk melihat respons kebijakan suku bunga dalam negeri.

Sentimen Global dan Minyak Dunia

Dari sisi eksternal, The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) ke level 3,75-4,00 persen. Ini merupakan kenaikan pertama sejak 2023. Ketua Fed, Kevin Warsh, memberikan sinyal bahwa inflasi masih terlalu tinggi, sehingga membuka ruang bagi kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir tahun 2026.

Meski demikian, terdapat sentimen positif dari koreksi harga minyak dunia. Menurut Nico, penurunan harga minyak memberikan ruang bagi APBN agar tidak terdesak membengkakkan anggaran subsidi secara drastis. Hal ini juga meminimalisir risiko pengambilan kebijakan tidak populer, seperti kenaikan harga BBM bersubsidi di tengah periode berjalan.

Pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap volatilitas tinggi menjelang pengumuman RDG BI pekan depan, mengingat indikator suku bunga tinggi di tingkat global diprediksi akan bertahan dalam waktu yang lebih lama (higher for longer). (Ant/E-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |