(MI/Rudi)
DINAS Kesehatan (Dinkes) Kota Pekanbaru mencatat sebanyak 3.028 warga mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam dua pekan terakhir. Lonjakan kasus ini terjadi seiring dengan kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menyelimuti wilayah tersebut.
Ribuan kasus ISPA tersebut dihimpun Dinkes Pekanbaru dari 21 puskesmas yang tersebar di seluruh Kota Pekanbaru. Masyarakat kini diminta untuk tetap mewaspadai dampak buruk polusi udara terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Sekretaris Dinkes Kota Pekanbaru, Dedy Sambudi, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Ia menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri guna meminimalisir paparan partikel asap.
"Warga diminta untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan," kata Dedy Sambudi, Jumat (11/9).
Dedy menjelaskan bahwa kabut asap karhutla hingga saat ini masih terlihat jelas di langit Kota Pekanbaru. Berdasarkan pantauan, kondisi tersebut diduga kuat berasal dari asap kiriman wilayah sekitar yang mengalami kebakaran lahan.
Di tengah kondisi kualitas udara yang belum sepenuhnya membaik, Dinkes Pekanbaru bersama sejumlah pihak terkait terus melakukan upaya perlindungan masyarakat. Salah satu langkah konkret yang diambil ialah membagikan masker secara gratis di berbagai titik strategis.
Hingga saat ini, total masker yang disalurkan kepada masyarakat selama kabut asap melanda mencapai 11 ribu masker. Pembagian ini tidak hanya bertujuan melindungi warga dari paparan udara tidak sehat, tetapi juga menjadi sarana edukasi agar masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan selama masa krisis Karhutla.
Menurut Dedy, paparan udara akibat kabut asap Karhutla sangat berisiko bagi berbagai kelompok usia tanpa terkecuali. "Yang terdampak ISPA ada balita, anak-anak hingga lansia," ujarnya.
Dinkes memastikan pembagian masker gratis akan terus dilakukan selama kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat. Selain itu, pemerintah kota juga telah menyiagakan persediaan obat-obatan dan tenaga medis di 21 puskesmas.
"Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan tetap dapat memperoleh penanganan di tengah kondisi kabut asap," pungkasnya. (I-2)















































