Erupsi Gunung Anak Krakatau.(Dok. Antara)
AHLI Kebencanaan dari Institut Teknologi Sumatra (Itera), Ikah Ning Prasetiowati Permanasari, mengungkapkan bahwa aktivitas magma di Gunung Anak Krakatau masih terus berlangsung. Kondisi ini terpantau tetap aktif meskipun aktivitas seismik gunung api tersebut menunjukkan tren penurunan.
Ikah menjelaskan bahwa penilaian terhadap kondisi Gunung Anak Krakatau harus didasarkan pada data komprehensif dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Ia menyoroti adanya perbedaan indikator antara data seismik dan data deformasi.
"Sebetulnya kalau bicara hal ini kita harus bicara data. Data dari PVMBG menyebutkan aktivitas seismiknya sebetulnya sudah menurun, dan data stasiun tiltmeter itu masih ada data yang tinggi terkait magma," ujar Ikah Ning Prasetiowati Permanasari di Bandarlampung, Jumat (11/9/2026).
Potensi Erupsi dan Pelepasan Energi
Menurut Ikah, keberadaan aktivitas magma di bawah permukaan sangat memengaruhi kondisi fisik dan stabilitas Gunung Anak Krakatau. Meski kegempaan menurun, pergerakan magma yang masih terdeteksi melalui alat tiltmeter menandakan adanya tekanan yang perlu diwaspadai.
"Jadi, walaupun aktivitas seismiknya sudah menurun, masih ada aktivitas di bawah sana. Sehingga, kita masih harus menunggu, dan mudah-mudahan tidak ada lonjakan aktivitas lagi," katanya.
Ia menambahkan bahwa dengan adanya aktivitas magma tersebut, kemungkinan terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau seperti yang terjadi pada Jumat (4/9) lalu masih tetap ada. Namun, ia mencatat bahwa saat ini interval antar-erupsi sudah menunjukkan intensitas yang berkurang secara signifikan.
"Kalau dilihat dari intervalnya sudah jauh sekali. Tapi Gunung Anak Krakatau dengan adanya aktivitas erupsi seperti ini bagus untuk mengeluarkan energi, sehingga tidak terakumulasi di dalam. Harapannya energi ini bisa keluar sedikit-sedikit," jelasnya.
Kualitas Udara Membaik
Terkait dampak lingkungan, Ikah memaparkan bahwa kualitas udara di sekitar wilayah terdampak berdasarkan pengukuran terakhir telah menunjukkan perbaikan yang signifikan. Parameter gas berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2) dilaporkan telah menurun di bawah ambang batas baku mutu.
"SO2 sudah turun dan parameter lain sudah turun dari baku mutunya, hanya sisa debu. Oleh karena itu, penggunaan masker tetap harus dilakukan, karena kita tidak tahu debu ini bercampur dengan abu vulkanik atau tidak," pungkasnya. (Ant/H-3)















































