PENGUATAN INDUSTRI MIGAS: Pekerja menyelesaikan proses pemotongan pipa gas di pabrik produksi pipa gas PT Dwi Sumber Arca Waja Kura di Kawasan Industri Terpadu Kabil, Batam, Kepulauan Riau. SKK Migas mempertegas kewajiban pemanfaatan barang dan jasa dalam(ANTARA/Teguh Prihatna)
TREN surplus neraca perdagangan Indonesia selama selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 terputus pada Mei 2026. Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar, dengan nilai ekspor US$23,20 miliar dan impor mencapai US$24,81 miliar.
Pada Juni 2026, neraca perdagangan masih defisit meski menipis ke angka US$0,45 miliar dengan nilai ekspor sebesar US$25,46 miliar dan impor mencapai US$25,91 miliar. Meski demikian secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia periode Januari-Juni 2026 tetap mencatat surplus sebesar US$3,58 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan defisit bulanan terebut tidak lepas dari nilai impor minyak dan gas (migas) yang melonjak. Hal itu diperparah oleh lonjakan harga minyak dunia.
Ia menjelaskan, di saat volume impor migas maupun nonmigas mengalami penurunan, neraca perdagangan justru mengalami defisit karena harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan hingga di atas US$100 per barel. Padahal harga normal sekitar US$60-US$65 per barel.
"Kenapa Mei itu defisit? Karena pada Maret-April mulai naik tinggi harga minyak. Itu mempengaruhi neraca kita pada Mei," ungkap Budi saat menerima Media Indonesia di Kantor Kementerian Perdagangan Jakarta Pusat, Senin (3/8).
Padahal, lanjutnya, volume impor menurun. Impor migas RI pada Mei 2026 sebesar 4,3 juta ton, turun 12,4% dari April 2026 sebesar 4,9 juta ton. Kemudian impor nonmigas juga turun dari posisi April 2026 sebesar 21,5 juta ton menjadi 18 juta ton pada Mei 2026 atau turun 15,7%.
"Sebenarnya impor kita dari sisi volume turun tapi dari sisi nilai naik karena harga minyak naik," ujarnya.
Impor bahan baku
Ia menggarisbawahi impor RI memang tinggi. Tetapi harus dilihat pula jenis barang yang diimpor. Struktur impor Indonesia didominasi oleh bahan baku/penolong dengan pangsa pada semester I 2026 mencapai 71,37%.
"Bahan baku/penolong itu untuk produksi, memang masih banyak yang impor. Kemudian 19,94% barang modal seperti mesin-mesin untuk produksi. Sisanya 8,69% adalah barang konsumsi," papar mendag.
"Sebenarnya enggak banyak impor barang konsumsi atau barang jadi yang dipakai langsung oleh konsumen. Kebanyakan bahan baku dan bahan penolongyang diimpor," tuturnya.
Bersifat produktif
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai defisit neraca dagang Indonesia pada Juni 2026 belum mencerminkan pelemahan sektor eksternal. Menurutnya, kondisi tersebut lebih tepat dipandang sebagai bagian dari proses penyesuaian struktur perdagangan, meski defisit terjadi selama dua bulan berturut-turut.
Ia menjelaskan, kinerja ekspor sebenarnya masih menunjukkan tren positif. Nilai ekspor pada Juni mencapai US$25,46 miliar atau tumbuh 8,84% secara tahunan, terutama ditopang oleh ekspor nonmigas seperti nikel, bahan bakar mineral, dan minyak nabati.
Sebaliknya, tekanan terhadap neraca dagang berasal dari lonjakan impor yang meningkat 34,27% menjadi US$25,91 miliar. Kenaikan paling besar terjadi pada impor migas yang melonjak lebih dari 100% sehingga mendorong defisit sektor migas mencapai US$3,49 miliar. Surplus perdagangan nonmigas sebesar US$3,04 miliar belum mampu menutupi defisit tersebut.
"Di sisi lain, kenaikan impor juga menunjukkan permintaan domestik masih cukup kuat. Sebagian besar impor berasal dari bahan baku, barang penolong, dan barang modal yang digunakan untuk produksi dan investasi. Dalam analisis ekonomi, impor seperti ini cenderung bersifat produktif karena mendukung peningkatan kapasitas industri," kata Yusuf. (E-1)














































