(MI/Duta)
PADA satu pertanyaan penting yang layak diajukan pada Hari Pramuka 2026, yakni apa yang dapat dilakukan jutaan anggota Pramuka untuk menjawab persoalan nyata bangsa? Pertanyaan ini penting karena Gerakan Pramuka tidak seharusnya hanya dikenang melalui seragam cokelat, tepuk Pramuka, tali-temali, perkemahan, dan upacara. Di balik itu tersimpan sebuah kekuatan besar, di mana ada jutaan anak dan kaum muda yang sedang dipersiapkan menjadi generasi penerus Indonesia. Karena itu, tema Hari Pramuka 2026, Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045, patut dimaknai sebagai panggilan untuk memperluas medan pengabdian Pramuka. Salah satu medan pengabdian strategis itu ialah pangan.
Pertanyaan berikutnya ialah mengapa pangan? Sebab, pangan bukan sekadar urusan apa yang tersedia di meja makan. Pangan berhubungan dengan kesehatan, kemiskinan, kesejahteraan petani, stabilitas ekonomi, lingkungan, dan pada akhirnya kedaulatan negara. Sebuah bangsa dengan jumlah penduduk besar tidak cukup hanya memiliki kemampuan membeli pangan. Ia juga harus memiliki kemampuan memproduksi sekaligus menjaga keberlanjutan pangannya.
Pengalaman dunia beberapa tahun terakhir memberikan pelajaran berharga. Perubahan iklim, konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, fluktuasi harga komoditas, dan berbagai krisis global dapat dengan cepat memengaruhi ketersediaan pangan. Karena itulah swasembada pangan harus ditempatkan sebagai agenda strategis bangsa. Lalu, apa kaitan Pramuka dengan swasembada pangan? Jawabannya justru terletak pada hakikat Pramuka sebagai gerakan pendidikan. Pramuka mendidik generasi muda melalui pengalaman nyata. Prinsip learning by doing membuat anak tidak sekadar mendengar penjelasan tentang disiplin, kerja keras, kemandirian, kepemimpinan, gotong royong, ataupun kecintaan terhadap alam. Mereka mengalami sekaligus mempraktikkannya.
Pertanian menyediakan ruang pendidikan yang sangat kaya untuk mewujudkannya. Ketika seorang anak menanam benih, ia belajar bahwa hasil tidak pernah datang secara instan. Ketika tanaman harus disiram dan dipelihara setiap hari, ia belajar disiplin dan tanggung jawab. Ketika tanaman gagal tumbuh, ia belajar menghadapi kegagalan. Ketika panen dilakukan bersama, ia belajar kerja sama. Akhirnya, ketika hasil panen diolah dan dijual, ia belajar kreativitas dan kewirausahaan.
Dengan demikian, keterlibatan Pramuka dalam pangan tidak berarti mengubah Gerakan Pramuka menjadi organisasi pertanian. Sebaliknya, pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan dapat menjadi laboratorium pendidikan karakter, keterampilan hidup, kewirausahaan, sekaligus kepedulian terhadap masa depan bangsa.
MENUJU GERAKAN PANGAN
Salah satu tantangan penting pembangunan pangan Indonesia ialah regenerasi pelakunya. Harus diakui, sebagian besar generasi muda kita memandang pertanian masih sebagai pekerjaan yang kotor, berat, tradisional, dan kurang menjanjikan. Persepsi semacam ini harus diubah. Pertanian masa depan bukan lagi sekadar cangkul dan sawah. Teknologi telah membawa sektor pangan menuju smart farming, mekanisasi, hidroponik, akuaponik, drone, sensor, analisis data, pengolahan pangan modern, hingga pemasaran digital. Petani masa depan dapat sekaligus menjadi inovator, teknolog, manajer, dan juga wirausahawan.
Pramuka dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk memperkenalkan wajah baru pertanian tersebut sejak dini. Bayangkan jika gugus depan memiliki kebun pangan sederhana. Kwartir ranting mempunyai demonstration plot (demplot) pertanian, kwartir cabang mengembangkan pusat pelatihan pangan, sedangkan penegak dan pandega mengelola proyek pertanian produktif. Di wilayah pesisir, kegiatan diarahkan pada budidaya dan pengolahan hasil perikanan. Di wilayah pegunungan, Pramuka mengembangkan hortikultura atau perkebunan. Di perkotaan, mereka dapat mengembangkan hidroponik, akuaponik, atau urban farming.
Gagasan tersebut paling tidak dapat diwujudkan melalui empat langkah. Pertama, diperlukan peneguhan komitmen seluruh jajaran organisasi, mulai dari Kwartir Nasional, kwartir daerah, kwartir cabang, kwartir ranting, gugus depan, hingga Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pandega. Harus tumbuh kesamaan pandangan bahwa mendukung swasembada pangan merupakan bagian dari pengabdian Pramuka kepada bangsa. Dalam konteks ini, Penegak dan Pandega jangan sekadar menjadi peserta. Mereka harus diberikan ruang untuk merancang program, memetakan potensi pangan daerah, mengembangkan inovasi, menjalankan proyek, membangun kemitraan, hingga memasarkan produk. Pendidikan kepemimpinan justru menemukan maknanya ketika kaum muda dipercaya mengelola kegiatan produktif.
Kedua, diperlukan pencanangan Gerakan Pramuka Mendukung Swasembada Pangan sebagai penanda tekad organisasi. Namun, pencanangan jangan berhenti sebagai seremoni. Harus tersedia peta jalan, program, target, kemitraan, dan indikator keberhasilan yang dapat dievaluasi secara berkala.
Ketiga, pendidikan pangan perlu dirancang secara berjenjang sesuai usia anggota. Siaga dapat diperkenalkan pada sumber pangan, kebiasaan tidak membuang makanan, menanam tanaman sederhana, dan mencintai lingkungan. Penggalang mulai mengembangkan kebun kecil, membuat kompos, membudidayakan tanaman, atau mengenal perikanan dan peternakan. Adapun Penegak dan Pandega diarahkan pada aktivitas produktif: bertani, berkebun, budi daya ikan, peternakan, hidroponik, pengolahan hasil pangan, hingga membangun usaha. Formulanya sederhana, yakni Siaga mengenal, Penggalang mencoba, Penegak dan Pandega memproduksi serta berinovasi.
Keempat, dapat dibentuk sangga dan reka kerja khusus bidang pangan dan pertanian produktif. Mereka menjalankan proyek berdasarkan potensi wilayah. Tidak perlu satu model yang dipaksakan untuk seluruh Indonesia karena kekuatan pangan kita justru berada pada keragamannya. Semangatnya adalah satu daerah, satu potensi, satu gerakan produktif.
PRAMUKA BRIGADE PANGAN
Program sebesar ini tentu tidak dapat dikerjakan Pramuka sendirian. Diperlukan kolaborasi dengan pemerintah, pemerintah daerah, perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha, kelompok tani, peternak, nelayan, pembudi daya ikan, serta pelaku industri pangan. Pemerintah dapat memberikan dukungan kebijakan, akses lahan, bibit, alat, dan pelatihan. Perguruan tinggi mendukung melalui riset, teknologi, inovasi, serta pendampingan. Dunia usaha dapat membuka akses pembiayaan dan pasar. Sementara petani, peternak, nelayan, dan pelaku pangan menjadi mentor yang mempertemukan anak muda dengan pengalaman nyata di lapangan. Ringkasnya, kolaborasi ini penting agar gerakan pangan Pramuka tidak berusia pendek.
Untuk memperkuat keberlanjutan sekaligus dimensi sosialnya, saya mengusulkan gagasan ‘Pramuka Brigade Pangan’. Pramuka Brigade Pangan bukan organisasi baru di luar Gerakan Pramuka. Ia merupakan model pembinaan berbasis komunitas yang memadukan pendidikan karakter, keterampilan hidup, pertanian produktif, teknologi, kewirausahaan, dan pengabdian kepada masyarakat. Model ini juga dapat menjangkau anak dan kaum muda dari keluarga kurang beruntung. Mereka dihimpun dalam komunitas Pramuka, mendapatkan pendidikan karakter, sekaligus memperoleh keterampilan produktif. Dengan demikian, Pramuka tidak hanya membantu mereka menjadi pribadi tangguh, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian ekonomi.
Brigade Pangan dapat mengelola lahan produktif, kebun hortikultura, budi daya ikan, peternakan, pengolahan hasil pertanian, hingga usaha pangan. Anggotanya belajar dari hulu sampai hilir, seperti membaca potensi lingkungan, menanam, merawat, memanen, mengolah, mengemas, membangun merek, menghitung biaya produksi, dan memasarkan produk secara digital.
Di sinilah pendidikan kepramukaan menemukan relevansi baru. Anak muda tidak hanya diajarkan bagaimana bertahan hidup di alam, tetapi juga bagaimana mengelola alam secara bertanggung jawab untuk menopang kehidupan. Mereka tidak hanya dilatih mendirikan tenda, tetapi juga membangun usaha. Tidak hanya mengikuti penjelajahan, tetapi juga menjelajahi peluang ekonomi di lingkungan sekitarnya.
Karena itu, sudah saatnya sebagian aktivitas Pramuka bergerak dari bumi perkemahan menuju lahan produktif. Bayangkan apabila ribuan gugus depan di Indonesia memiliki kebun produktif. Bayangkan setiap kwartir cabang mempunyai proyek percontohan pangan. Bayangkan Penegak dan Pandega mengembangkan usaha pertanian berbasis teknologi. Bayangkan pula anak-anak dari keluarga kurang beruntung memperoleh keterampilan dan kesempatan ekonomi melalui Pramuka Brigade Pangan. Dampaknya tidak semata-mata dihitung dari ton hasil panen. Lebih dari itu, nilai terbesarnya berupa tumbuhnya generasi yang memahami bahwa pangan merupakan persoalan kehidupan dan kedaulatan bangsa. Semoga.















































