Kemelut FIFA

2 hours ago 5
Kemelut FIFA      Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

GONJANG-GANJING sedang melanda organisasi sepak bola dunia, FIFA. Pemantiknya ialah ide liberal Presiden FIFA Gianni Infantino untuk melepaskan 21% kepemilikan penyelenggaraan Piala Dunia kepada swasta.

Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA), Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), serta Asosiasi Sepak Bola Amerika Tengah dan Utara (CONCACAF) sama-sama menentang ide yang berbahaya ini. Ketiganya bahkan membawa lebih jauh ke persoalan kepemimpinan di tubuh FIFA yang tahun depan akan menyelenggarakan kongres untuk memilih presiden yang baru.

Infantino dianggap tidak layak untuk dipilih kembali sebagai Presiden FIFA periode mendatang. Ketiga asosiasi sepak bola itu bersepakat untuk mencari calon lain guna menggantikan sosok sepak bola asal Swis itu. Satu sosok yang dimunculkan sebagai alternatif Infantino ialah Presiden CONCACAF Victor Montagliani. Ia adalah pengurus sepak bola di Kanada dan berlatar belakang pengusaha.

Manuver mulai dilancarkan dengan menyatakan mosi tidak percaya kepada Infantino. Ketiga konfederasi sepak bola mengancam untuk keluar dari FIFA serta menggelar kompetisi sepak bola tandingan dan tidak akan ikut ajang Piala Dunia FIFA.

Infantino menyadari kekeliruannya dan mencoba menarik ide liarnya. Namun, berbagai kontroversi yang terjadi di ajang Piala Dunia 2026 membuat para pengurus sepak bola di banyak negara menilai Infantino tidak layak untuk dipertahankan dan lebih baik diganti.

Mereka berpandangan bahwa FIFA milik seluruh anggota, bukan perseorangan. Penyelenggaraan Piala Dunia tidak dimaksudkan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, tetapi keuntungan dipakai guna membantu para anggota meningkatkan kualitas sepak bola di negara masing-masing.

Sepak bola memang sudah berkembang menjadi industri besar. Sebagai olahraga yang paling menarik perhatian manusia di muka bumi, sepak bola menjadi mesin uang yang luar biasa. Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 memberikan keuntungan sampai US$9,6 miliar, sebuah angka yang fantastis.

Sangat berbahaya apabila FIFA dipimpin orang yang orientasinya kepada pragmatisme materi. Uang menjadi tujuan dan ukuran keberhasilan, bukan kualitas sepak bola yang semakin meningkat dan merata di semua belahan dunia.

Value based idealism dari sepak bola harus tetap menjadi pegangan. Tanpa idealisme untuk menjadikan sepak bola sebagai pembangun harapan anak muda, penanaman nilai disiplin dan kerja keras, meritokrasi, serta fair play, sepak bola sekadar menjadi tontonan, hanya sebuah sirkus yang berharap tepuk tangan penonton.

Sejauh ini hanya Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meminta FIFA agar mempertahankan Infantino. Trump menilai Infantino sudah menjalankan tugasnya dengan baik dan dunia sepak bola akan merugi kalau kehilangan tokoh sepak bola asal Swis itu.

Namun, tindakan Infantino yang cenderung one man show membuat masyarakat sepak bola dunia khawatir. Pengalaman zaman Joseph Blatter yang juga cenderung otoriter membuat sepak bola terpuruk dalam praktik korupsi. Terungkap bahwa penunjukan tuan rumah Piala Dunia lebih didasarkan kepada berapa besar suap yang diberikan calon negara tuan rumah.

NASIB PSSI

Hal yang sama seharusnya menjadi perhatian kita di dalam negeri. Kebetulan tahun depan juga akan ada Kongres PSSI untuk memilih ketua umum yang baru.

Sejauh ini ada empat nama yang disebut-sebut bersiap untuk maju. Selain Ketua Umum PSSI Erick Thohir, ada nama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono dan Kepala Kantor Staf Presiden Dudung Abdurachman.

Banyak yang berpandangan Erick Thohir tidak perlu maju lagi menjadi Ketua Umum PSSI. Alasannya, ia menjabat menteri pemuda dan olahraga sehingga tidak elok apabila regulator dan operator, pengawas dan yang diawasi, dipegang orang yang sama.

Pengalaman selama ini tidak pernah ada rangkap jabatan di bidang yang sama. Saat Agum Gumelar akan menjadi Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia, ia melepas jabatan Ketua Umum PSSI karena tidak mau terjadi konflik kepentingan.

Sejauh ini Erick tidak mau melepas salah satu jabatan yang diembannya. Alasannya, ia masih ingin memajukan sepak bola Indonesia dan perangkapan jabatan dinilai tidak melanggar statuta PSSI dan FIFA.

Sepak bola tidak mungkin ditangani sebagai pekerjaan sambilan. Masalahnya dibutuhkan konsep pembinaan yang holistis dan pendampingan yang berkelanjutan agar peningkatan prestasi bisa terukur dengan cermat.

Apalagi seperti dikatakan Presiden Prabowo Subianto, sepak bola berkaitan dengan gengsi sebuah bangsa. Kalau negara kecil seperti Tanjung Hijau bisa tampil di putaran final Piala Dunia, seharusnya Indonesia pun mampu.

Hanya saja, sepak bola bukan olahraga yang ukuran keberhasilannya bergantung pada besar jumlah penduduk. Tiongkok dan India yang berpenduduk lebih dari 1 miliar jiwa pun tidak mampu juga tampil di ajang Piala Dunia.

Berulang kali kita sampaikan bahwa sepak bola membutuhkan ekosistem yang sehat apabila ingin berhasil. Dimulai dari pengurusnya yang mempunyai visi, kompetensi, dan kemauan untuk mencurahkan tenaga dan pikiran bagi kemajuan sepak bola.

Dengan pengurus yang memiliki komitmen kuat, akan terbangun jumlah pelatih berkualitas yang mencukupi, klub yang berorientasi kepada pembinaan, pemain yang terpacu untuk meningkatkan keterampilan, wasit-wasit yang kredibel dan dihormati, pemerintah yang peduli menyediakan infrastruktur sepak bola yang memadai, pengelola kompetisi liga yang profesional, dan penonton yang menyebarkan semangat, bukan ketakutan.

Mari kita becermin, apakah pengurus PSSI yang ada sekarang ini sudah melakukan semua pekerjaan rumah itu? Apakah tim nasional terbentuk dari sebuah ekosistem yang sehat atau hanya memilih jalan lintas untuk berhasil?

Lalu kalau ada yang berminat menjadi Ketua Umum PSSI, apakah mereka membawa cara pendekatan dan pemikiran yang baru? Sejauh mana konsep yang mereka tawarkan lebih baik daripada konsep yang berjalan sekarang?

Kita memiliki waktu hampir satu tahun untuk melihat visi calon-calon Ketua Umum PSSI yang akan maju. Mari kita gunakan akal sehat untuk melihat konsep yang mereka akan tawarkan. Bukan saatnya kita hanya bergantung kepada nama besar. Sudah terlalu sering sepak bola Indonesia diiming-imingi dengan mimpi yang indah. Kenyataannya sepak bola Indonesia masih berada ada titik yang sama.

Jangan pernah kita bermimpi untuk berbicara di ajang Piala Dunia kalau kita tidak bisa berjaya di ajang ASEAN. Tahapan itu harus dimulai dengan menjadi yang terbaik di kawasan, kemudian naik ke tingkat Asia, baru dengan itu kita bisa berbicara di level dunia. Sanggup???

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |