Puluhan anak mengikuti kegiatan belajar di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo, Kelurahan Angke, Jakarta Barat(MI/Agung Wibowo)
PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat peran Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Keberadaannya kini tidak sekadar menjadi sarana bermain dan berinteraksi bagi anak-anak, tetapi juga didorong menjadi pusat pemberdayaan warga.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa penyediaan fasilitas bermain anak merupakan wadah interaksi sosial untuk menikmati ruang terbuka hijau (RTH). Oleh karena itu, kualitas serta kenyamanan fasilitas taman harus terus diperhatikan.
Sejauh ini, RPTRA dinilai berhasil menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk bermain, belajar, serta bersosialisasi. "Adanya RPTRA, kualitas hidup masyarakat, khususnya anak-anak, dapat meningkat melalui kegiatan yang positif dan bermanfaat," ujar Pramono.
Saat ini, Jakarta telah memiliki 324 RPTRA yang tersebar di 44 kecamatan dan 173 kelurahan. Capaian angka tersebut telah melampaui target awal yang ditetapkan sebanyak 267 RPTRA.
Jadi Tempat Literasi
Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP) DKI Jakarta Dwi Oktavia Handayani menyatakan, RPTRA memiliki potensi besar dalam mendukung berbagai program pembangunan masyarakat. Potensi tersebut mencakup perlindungan anak, pemberdayaan keluarga, peningkatan derajat kesehatan, hingga penguatan ekonomi warga.
"Berbagai kegiatan di RPTRA dapat dimaksimalkan untuk mendukung pembangunan masyarakat melalui kolaborasi berbagai program,” kata Dwi.
Salah satu bentuk penguatan tersebut terlihat di RPTRA Tunas Muda, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di lokasi ini, Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital serta pihak swasta untuk menghadirkan ruang publik yang mendukung tumbuh kembang anak di era digital.
RPTRA tersebut dilengkapi dengan fasilitas buku bacaan, permainan edukatif, serta sarana literasi digital. Inisiatif ini dirancang untuk membimbing anak-anak agar membangun kebiasaan mengoperasikan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
Dwi menilai, ruang bermain memiliki makna yang jauh lebih luas dari sekadar sarana rekreasi. Area tersebut menjadi tempat anak belajar, mengasah kreativitas, membentuk karakter, serta memperkuat keterampilan bersosialisasi.
Perluas Kawasan Hijau
Penguatan peran RPTRA juga berjalan seiring dengan perluasan kawasan hijau kota. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkapkan, luas RTH di ibu kota saat ini telah mencapai 3.703,56 hektare atau 5,59 persen dari total wilayah. Angka ini meningkat dibanding capaian 2024 yang tercatat sebesar 3.446 hektare (5,3 persen).
"Peningkatan persentase ruang terbuka hijau melalui pembangunan 15 lokasi RTH taman, satu lokasi RTH jalur hijau, tiga lokasi RTH hutan, dan satu lokasi RTH makam dengan 7.627 potensi petak makam baru," ujar Rano.
Lebih lanjut, Rano menyampaikan bahwa Pemprov DKI Jakarta turut memperkuat fungsi ekologis taman melalui penambahan area resapan air. Pembangunan penampung air seperti Embung Lapangan Merah di Jakarta Selatan dan Waduk Giri Kencana di Jakarta Timur dihadirkan untuk mengendalikan limpasan air hujan sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan perkotaan secara berkelanjutan.
Oase Murah Meriah Warga
Manfaat nyata dari penataan taman kota dirasakan langsung oleh masyarakat. Di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, RTH tidak lagi dipandang sebagai sekadar pelengkap estetika tata kota, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang bernapas sekaligus destinasi wisata alternatif yang ramah kantong.
Agung Rahmatsyah, warga Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengaku rutin menghabiskan waktu akhir pekan bersama istri dan anak balitanya di taman tersebut. Menurut Agung, wajah baru taman yang telah terintegrasi menjadi pilihan utama untuk berekreasi tanpa harus menghadapi kemacetan menuju luar kota atau berjejal di pusat perbelanjaan.
"Taman yang saat ini sudah direvitalisasi jadi lebih bagus dan nyaman untuk menghabiskan waktu di akhir pekan," ujarnya.
Bagi keluarga muda seperti Agung, ruang terbuka publik yang nyaman dan terjangkau menjadi kebutuhan yang kian mendesak. Cukup dengan membayar tarif parkir kendaraan dan membawa bekal dari rumah, warga sudah dapat menikmati suasana senja yang asri di jantung kota. (Ant/P-4)














































