Para narasumber Seminar PINTU 2026 seusai memaparkan materi seputar keberlanjutan industri tekstil dan penanganan limbah fashion di Jakarta Pusat, Selasa (28/7).(MI/Nadhira Izzati)
MASALAH limbah tekstil tidak hanya berasal dari kebiasaan konsumen, tetapi juga dari keputusan produksi berskala besar.
Dalam Seminar PINTU 2026 di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/7), Co-founder sekaligus CEO The New Factory, Alia Sarastita, menyebut sekitar 40 persen pakaian yang diproduksi secara global tidak pernah terjual atau sampai ke tangan konsumen.
“Ini adalah pre-consumer waste,” ujar Alia.
Menurutnya, limbah tersebut muncul akibat buruknya perkiraan pasar, produksi massal untuk mengejar efisiensi, serta perhitungan biaya yang mendorong produsen membuat barang secara berlebihan.
“Jika produsen membuat keputusan yang tepat, 40 persen limbah tadi bisa dicegah,” tegasnya.
Satu Kolaborasi Bisa Menghasilkan Dua Ton Limbah
Dampak limbah tekstil terlihat nyata di kawasan Kopo, Bandung. Tumpukan sisa kain memenuhi sisi jalan hingga menyumbat saluran air.
Fasilitas pengolahan juga kerap kewalahan karena belum tersedia teknologi daur ulang berskala besar yang mampu menangani beragam komposisi bahan.
“Satu kolaborasi dengan satu perusahaan saja bisa dengan mudah menyumbang dua ton limbah tekstil,” kata Alia.
Di sektor ritel, produksi berlebih kerap dilakukan untuk memaksimalkan keuntungan. Stok yang tidak terjual dialihkan ke gerai diskon, tetapi banyak yang akhirnya tetap berakhir di tempat pembuangan.
Dosen dan peneliti Politeknik STTT Bandung, Mohamad Widodo, mengatakan industri juga menciptakan persepsi bahwa konsumen membutuhkan produk baru.
Pergantian tren warna dan model yang cepat memicu fenomena Fear of Missing Out atau FOMO, sehingga masyarakat terdorong membeli pakaian yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Regulasi dan Pencegahan dari Tahap Desain
Perubahan sistemik membutuhkan regulasi yang lebih tegas. Prancis, misalnya, telah melarang iklan perusahaan ultra fast fashion.
Di Indonesia, upaya tersebut mulai didorong melalui Peta Jalan Ekonomi Sirkular. Sejumlah manufaktur juga mulai menggunakan teknologi CAD dan AI untuk menerapkan desain minim limbah.
Namun, Widodo menilai Indonesia masih berada pada tahap awal.
“Kita sebenarnya siap, tetapi baru berada di langkah paling awal,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa limbah harus dicegah sejak tahap perencanaan melalui pendekatan eco-design, disertai edukasi dan regulasi yang mendorong industri lebih bertanggung jawab. (Z-10)














































