Atacama Diguyur Hujan Ekstrem setelah Puluhan Tahun, Banjir dan Lumpur Melanda

22 hours ago 1
Atacama Diguyur Hujan Ekstrem setelah Puluhan Tahun, Banjir dan Lumpur Melanda Ilustrasi(magnifik)

APA yang terjadi jika sebuah wilayah membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali diguyur hujan? Di satu sisi, tanahnya bisa tampak seperti padang gurun yang nyaris tak tersentuh air.

Namun di sisi lain, ketika hujan akhirnya turun, derasnya bisa berubah menjadi badai yang membawa dampak besar bagi lingkungan sekitarnya.

Gurun Atacama di Chili utara dikenal sebagai salah satu tempat terkering di dunia, dengan sejumlah wilayah yang hanya menerima beberapa milimeter hujan per tahun, bahkan ada yang sama sekali tidak pernah diguyur hujan. 

Gurun Ekstrim Atcama

Gurun Atacama membentang di sepanjang tepi barat Pegunungan Andes, di dataran tinggi dengan ketinggian hingga 13.000 kaki atau sekitar 4.000 meter di Chili utara dan Peru selatan. 

Di sebelah barat, gurun ini terjepit di antara Samudra Pasifik, sementara di sebelah timur berdiri Pegunungan Andes. Letaknya membuat wilayah ini terkena efek bayangan hujan yang kuat, sehingga awan sulit membawa banyak curah hujan ke kawasan gurun. 

Atacama juga berada dekat arus laut dingin yang mendinginkan udara dan membatasi jumlah uap air yang dapat ditampungnya. Kondisi itu diperburuk oleh zona tekanan tinggi yang kerap bertahan dan menghalangi badai bergerak ke wilayah tersebut.

Kombinasi faktor geografis dan atmosfer ini membuat Atacama menjadi salah satu tempat paling kering di bumi. Lokasi-lokasi di gurun ini bahkan menerima curah hujan kurang dari 0,2 inci atau 5 milimeter per tahun. 

Tanah yang sangat kering dan minim vegetasi tidak mampu menyerap air dalam jumlah besar dengan cepat. Akibatnya, air lebih banyak mengalir di permukaan, membawa sedimen dan lumpur hingga membentuk aliran deras yang dapat berubah menjadi banjir bandang. 

Fenomena ini pernah terjadi ketika hujan lebat melanda Atacama dan menyebabkan banjir serta aliran lumpur di sejumlah wilayah. 

Saat Hujan Datang, Gurun Berubah Drastis

Hujan yang turun di kawasan atacama bukanlah hujan biasa melainkan fenomena itu justru menyebabkan badai. 

Pada akhir Maret 2015, kondisi atmosfer yang tidak biasa membawa udara lembap ke Gurun Atacama. Hujan yang terjadi kemudian disebut sebagai salah satu yang terberat dan terluas di kawasan tersebut dalam hampir satu abad. 

Total curah hujan mencapai hampir 50 milimeter, tetapi bagi wilayah yang sangat kering, jumlah itu tergolong ekstrem. Antofagasta menerima 24 milimeter hujan pada 25–26 Maret, setara sekitar 14 tahun curah hujan berdasarkan rata-rata tahunannya yang hanya 1,7 milimeter. Sementara itu, Quillagua mengalami hujan pertamanya dalam 23 tahun.

Hujan tersebut memicu banjir dan aliran lumpur karena tanah yang telah lama kering tidak mampu menghadapi datangnya air dalam jumlah besar secara tiba-tiba. 

Sedikitnya 26 orang tewas, 120 orang masih hilang dua minggu setelah kejadian, sekitar 2.000 rumah hanyut, dan 6.000 lainnya rusak parah. 

NASA mencatat hujan langka itu berkaitan dengan front dingin yang bergerak melintasi Andes, sementara suhu udara dan permukaan laut yang beberapa derajat lebih tinggi dari normal membuat presipitasi yang biasanya turun sebagai salju berubah menjadi hujan.

Data penelitian juga menunjukkan peristiwa 24 - 26 Maret 2015 memiliki cakupan lebih dari 200.000 kilometer persegi, dengan curah hujan sekitar 10 milimeter di pesisir hingga lebih dari 85 milimeter di kawasan pegunungan.

Fenomena Atacama membuktikan bahwa di tempat yang paling kering sekalipun, hujan bukan selalu kabar baik. Ketika datang setelah penantian panjang, air dapat menjadi kekuatan yang mengubah gurun dalam sekejap. 

Sumber: NASA, NOAA Climate

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |