Atmosfer Pluto Mulai Membeku dan Runtuh Saat Menjauh dari Matahari!

5 hours ago 1
Atmosfer Pluto Mulai Membeku dan Runtuh Saat Menjauh dari Matahari! Atmosfer Pluto seperti yang terlihat oleh pesawat ruang angkasa New Horizons milik NASA pada 2016.(NASA/JHUAPL/SwRI)

FENOMENA luar biasa tengah terjadi di kawasan terluar Tata Surya kita. Atmosfer tipis yang menyelimuti planet kerdil Pluto dilaporkan mulai menipis, memadat, dan runtuh kembali ke permukaannya. Kondisi ekstrem ini terjadi seiring dengan semakin jauhnya posisi Pluto dari Matahari dalam lintasan orbit elipsnya, yang membuat suhunya merosot ke tingkat dingin yang membekukan.

Para ilmuwan astronomi mengamati fenomena ini dengan memanfaatkan teknik occultation, yaitu mengamati momen ketika Pluto melintas tepat di depan sebuah bintang jauh dari sudut pandang Bumi. Saat Pluto menutupi cahaya bintang tersebut, perubahan intensitas cahaya yang menembus lapisan atmosfer memberikan data presisi mengenai kerapatan, tekanan, serta ketebalan atmosfer Pluto.

Atmosfer Pluto sebagian besar terdiri dari gas nitrogen, dengan sedikit kandungan metana dan karbon monoksida. Gas-gas ini terbentuk dari penguapan lapisan es di permukaan Pluto ketika planet kerdil tersebut berada pada titik terdekatnya dengan Matahari (perihelion). Panas Matahari yang terbatas cukup untuk menyublimkan es nitrogen menjadi gas yang membentuk atmosfer tipis.

Namun, saat Pluto bergerak semakin jauh menuju titik terjauhnya dari Matahari (aphelion), radiasi sinar Matahari yang diterima permukaannya terus berkurang secara drastis. Akibatnya, suhu permukaan Pluto turun semakin ekstrem. Udara nitrogen yang tadinya berwujud gas kini mendingin, mengkristal, dan mengendap kembali ke permukaan planet sebagai lapisan es padat. Proses kondensasi inilah yang menyebabkan atmosfer Pluto tampak 'runtuh' dan menghilang.

Pengamatan terbaru ini sekaligus mengonfirmasi prediksi ilmiah yang telah lama digagas oleh para astronom. Sebelumnya, data beresolusi tinggi dari wahana antariksa New Horizons milik NASA pada 2015 sempat menunjukkan atmosfer Pluto yang cukup tebal dan aktif. Namun, data terkini membuktikan fase kehangatan relatif Pluto telah berakhir dan kini memasuki siklus pembekuan jangka panjang.

Orbit Pluto yang sangat lonjong membutuhkan waktu sekitar 248 tahun Bumi untuk menyelesaikan satu kali putaran mengelilingi Matahari. Hal ini berarti fenomena hilangnya atmosfer akibat pembekuan ini akan berlangsung selama puluhan tahun ke depan, sebelum nantinya Pluto kembali mendekati Matahari dan mencairkan kembali es nitrogen di permukaannya. (Space/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |