Berdaya Bersama: Misi Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas

4 hours ago 1
 Misi Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas Ilustrasi(Dok Istimewa)

PENYANDANG disabilitas sering kali mengalami keterbatasan ganda. Bukan hanya keterbatasan yang ada pada diri mereka, namun juga kesempatan untuk menunjukkan potensi mereka. Alhasil, segala bakat dan kemampuan dari penyandang disabilitas ini pun tidak tersalurkan dan teraktualisasi untuk menuai prestasi.

Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dari sekitar 17 juta penyandang disabilitas usia produktif, hanya mencapai 20,14 persen pada 2025. Padahal para penyandang disabilitas juga menyimpan kreativitas tanpa batas. Sehingga, eksplorasi potensi menjadi penting untuk dilakukan guna membantu menopang kesejahteraan mereka.

Hal ini pula yang berhasil ditunjukkan oleh Nurdini Prihastiti, yang akrab dipanggil Dini, melalui Dama Kara, sebuah jenama yang memberdayakan penyandang disabilitas untuk berkarya di bidang fesyen. Mereka didampingi untuk menuangkan berbagai imajinasi ke dalam aneka desain, serta fesyen.

Hasilnya, karya tersebut bukan sekadar ruang ekspresi bagi para penyandang disabilitas, namun juga menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Bahkan karya-karya yang dihasilkan berhasil dipamerkan pada ajang peragaan busana internasional. 

“Saya berkomitmen membuat Dama Kara sebagai sebuah wadah penyandang disabilitas ini untuk bisa berkarya dan merangkul mereka. Kami percaya bahwa sejatinya berkarya itu tidak mengenal keterbatasan,” tutur Dini, pendiri Dama Kara sekaligus CEO Dama Kara Foundation. 

Gagasan untuk memberi ruang bagi disabilitas ini tak datang tiba-tiba. Selepas lulus dari studi S1 Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB)/IPB University, Dini bekerja di sebuah perusahaan nasional terkemuka. Di perusahaan tersebut, perempuan kelahiran Lamongan Jawa Timur ini memiliki karir cemerlang. 

Namun pada suatu waktu, Dini merasa ia belum memberikan banyak manfaat pada masyarakat. Ia pun mengundurkan diri dari perusahaan tersebut lalu pindah ke Bandung. Di kota kembang ini, ia melanjutkan kuliah S2 Administrasi Bisnis di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan membuka usaha di bidang konveksi bersama sang suami.

“Saya merasa dengan berbisnis, manfaat yang bisa saya berikan sepertinya akan lebih banyak. Dalam artian, saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang-orang di sekitar saya ataupun membuat bisnis yang memiliki manfaat lebih banyak lagi,” paparnya.

Namun niat mulai itu tak berjalan mulus. Baru beberapa tahun merintis bisnis, usaha Dini dan suami menghadapi ujian. Kapal yang mengangkut produk pesanan klien di Kalimantan terbakar hebat di tengah lautan. Si jago merah menghanguskan seluruh kapal dan isinya, termasuk seragam dan suvenir pesanan klien tersebut. 

Alhasil, Dini harus memproduksi ulang produk-produk itu. Kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Toh, ia tak mau menyalahkan siapa-siapa. Momen bencana ini justru menjadi ruang refleksi bagi Dini.

“Nah, di titik itu yang kemudian menyadarkan saya bahwa sebenarnya semua yang kita miliki ini titipan Tuhan. Akhirnya saya dan suami sepakat bahwa kita kayaknya kurang beramal. Kalau (pesanan) salah size atau kualitasnya kurang, kita bisa perbaiki. Tapi kalau barang terbakar di tengah laut, itu kan sesuatu yang di luar kuasa kami sebagai manusia,” ucapnya. 

Dari hasil kontemplasi Dini dan sang suami, keduanya sepakat untuk memulai aksi filantropi di tengah aktivitas bisnis Dama Kara. Basisnya tetap bertumpu pada lini usaha mereka di bidang sandang dan konveksi. Namun Dini terus mencari model filantropi yang memberi kebermanfaatan lebih luas. 

Pada mulanya, sejak berdiri di awal 2020, Dama Kara merangkul para perajin dan penjahit perempuan di sekitar tempat usaha Dini di Bandung dan beberapa kota di Jawa Barat. Mengingat banyak produk merupakan buatan tangan alias handmade, Dama Kara memberi pelatihan kepada ibu-ibu untuk kemudian diminta membantu pengerjaan busana. 

“Harapannya ibu-ibu mendapat tambahan pendapatan,” kata Dini.

Pelibatan kaum perempuan dirasa tak cukup. Dini pun memperluas kebermanfaatan Dama Kara dengan mengajak kaum rentan yang selama ini terlupakan: penyandang disabilitas.

Seorang anak berkebutuhan khusus dari Inggris yang kemudian populer di media sosial karena karya lukisnya memberi inspirasi bagi Dini. Pada usia 3 tahun, anak bernama Iris tersebut dikenalkan pada seni lukis sebagai bagian dari terapi. Takdinyana, pada umur 6 tahun, Iris melahirkan lukisan-lukisan abstrak yang ekspresif dan menguasai pewarnaan secara mumpuni.

Dari kisah Iris, Dini menggali informasi lebih dalam tentang penyandang disabilitas di Indonesia. Menurutnya, jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia bisa jadi lebih tinggi dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencapai 22,97 juta jiwa. Ini karena masih ada masyarakat yang menganggap kondisi disabilitas sebagai aib, sehingga harus ditutupi. 

Dini juga menelusuri tentang kekuatan seni sebagai medium terapi sekaligus potensi dan kelebihan yang dapat digali daripara difabel seperti halnya Iris Grace. Ide pun menyeruak: karya seni para disabilitas dapat dipadukan dengan produksi kain tradisional dari Dama Kara.

Sejak itu, Dini mantap untuk melibatkan kaum disabilitas dalam pengerjaan karya Dama Kara. Pelibatan penyandang disabilitas pada karya-karya Dama Kara itulah yang melatari berdirinya Dama Kara Foundation pada 2024. Dini kemudian juga menggandeng lembaga sosial Our Dream Indonesia dan Art Therapy Center (ATC) Widyatama. 

Dama Kara Foundation mengembangkan sejumlah program, seperti kelas gambar bagi disabilitas. Melalui pendampingan oleh art fasilitator secara one on one—satu difabel satu pendamping, kelas ini tidak hanya melatih keterampilan seni dan motorik halus, tetapi juga mengasah imajinasi, konsentrasi, dan menumbuhkan rasa percaya diri para difabel. Karya-karya penyandang disabilitas ini kemudian dikembangkan melalui workshop kolaboratif dan pameran. 

Menurut Dini, para difabel yang bergabung di Dama Kara Foundation ini tidak harus mahir melukis atau mendesain. “Kami mendampingi mereka supaya mereka bisa, dari sekadar suka menggambar sampai akhirnya bisa dan menemukan kekhasan dari karya-karya mereka. Kami percaya bahwa sesuatu itu enggak datang secara instan. Kami hanya memastikan bahwa mereka memang enjoy,” ujarnya.

Dama Kara Foundation membuka ruang seluas-luasnya bagi difabel yang tertarik bergabung. Komitmen ini muncul setelah sejumlah keluarga penyandang disabilitas menyampaikan bahwa pendidikan formal bagi difabel hanya sampai setingkat SMA atau SMK.

“Setelah itu enggak ada ruang lagi untuk mereka berkontribusi. Akhirnya kami mencoba merangkul tidak ada batasan usia maksimum,” katanya.

Dini menjelaskan setiap difabel memerlukan pendampingan khusus dengan gaya berbeda. Sebagai contoh, ada anak yang menggambar dengan cahaya redup, ada yang mengerjakan sambil mendengarkan musik. Dini dan tim akan menyesuaikan kebiasaan-kebiasaan itu. 

Demikian pula dengan hasil karya para penyandang disabilitas. Sembari terus didampingi dan diasah, Dama Kara tidak mengharuskan kualitas tertentu, dan menyesuaikan dengan kemampuan mereka. Sesuai komitmen kebermanfaatan yang dicetuskan Dini, semua program Dama Kara untuk difabel ini dilakukan secara cuma-cuma.

“Mereka tidak dipungut biaya sepeser pun. Dari proses seleksisampai mereka berkarya, dari art fasilitator sampai alat-alatgambar, semuanya disediakan Dama Kara. Dari tiap koleksi di Dama Kara (yang terjual), kami sisihkan sebagian untuk men-support kelas teman-teman berkebutuhan khusus,” ungkap Dini.

Kepedulian Dini pada kaum rentan tak lepas dari perjalanan hidupnya. Bungsu dari tiga bersaudara ini sempat mengalami keterbatasan dari sisi ekonomi. Sang ayah meninggal dunia saatia kelas 2 SMP. Alhasil, ibunya yang seorang guru SD mesti membesarkan tiga orang anak. 

Seperti kiprahnya saat ini, jiwa wirausaha rupanya telah tumbuh pada Dini kecil. Pada usia SD, sepulang dari sekolah, ia sudah berani berjualan. “Kalau siang saya duduk di madrasah atau sekolah agama ada yang jajan, saya ngelihat, ‘wah, ini peluang untuk jualan’. Akhirnya saya minta modal ke bapak Rp5 ribu untuk saya belikan jajanan yang kemudian saya jual,” kenang Dini. 

Semangat wirausaha itu berlanjut ketika di SMA dan kuliah. Di IPB, Dini bahkan menyewa salah satu sudut kampus untuk membuka lapak jualan tas dan pakaian. Aktivitas bisnis ini harus diatur di antara jadwal kuliah dan seabrek kegiatan lain. Kala itu, Dini juga bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan menjadi penyiar radio. 

“Jualan mungkin lebih ke hobi ya. Saya suka bertemu dan berinteraksi dengan orang. Toh, waktu itu akhirnya bisa menabung untuk membayar biaya kos. Selain hobi, ternyata bisa mengurangi pengeluaran,” katanya seraya tergelak.

Pendidikan formal Dini makin mengukuhkan antusiasmenya dalam interaksi sosial. Selama studi S1 di bidang komunikasi dan pengembangan masyarakat di IPB, mahasiswa dituntut untuk sering turun ke masyarakat. Hampir tiap semester, mahasiswa tinggal di rumah warga selama beberapa hari di sejumlah daerah.

Ketika S2 Administrasi Bisnis ITB, aktivitas kuliah dan riset Dini juga senada, bahkan lebih spesifik di bidang kain tradisional yang turut membuka jalan berdirinya Dama Kara. Pengalaman di kampus ini mengasah kepekaan sosialnya.

“Kita menggali problem di masyarakat, kemudian membuat analisis dan mengusulkan program yang cocok. Kita coba melihat keseharian dan menemukan masalah utama yang seringkali berbeda dari yang mereka sampaikan,” ungkapnya.

Di masa kuliah pula, Dini menemukan inspirasi awal untuk terjun ke dunia sosial. Saat itu, karena menyadari kondisi ekonomi keluarga, ia berburu beasiswa sejak semester pertama. “Hampir setiap minggu saya melihat majalah dinding kampus yang menempel informasi tentang beasiswa,” ujarnya.

Dari ketekunan itu, Dini akhirnya berhasil. Sebuah beasiswa menopang biaya kuliahnya. Namun capaian ini tak menghentikan upayanya untuk mencari beasiswa lain yang dinilai lebih baik. Pada semester 2, ia melihat pengumuman suatu beasiswa yang menurutnya menawarkan nilai tambah. 

Dini pun mengikuti seleksi beasiswa tersebut dan dinyatakan lolos, lantas mengundurkan diri dari beasiswa sebelumnya. Sejak itulah Dini menjadi Tanoto Scholar. “Beasiswa Tanoto Foundation waktu itu sangat membantu. Bukan hanya memberikan SPP dan uang saku, tapi juga mengadakan kegiatan kepemimpinan yang dihadiri oleh banyak mahasiswa dari kampus-kampus lain,” tuturnya.

Dini menegaskan pengalaman bertemu dan bertukar pengalaman, serta menumbuhkan kepedulian pada sesama dari kegiatan Tanoto Foundation sungguh berkesan. Momen itu terus terpatri dan turut memantik semangat Dini untuk berbagi dan memberi manfaat bagi sesama, terutama bagi kalangan yang terpinggirkan.

“Banyak yang terbantu oleh Tanoto Foundation. Bukan hanya saya, tapi ratusan bahkan ribuan teman-teman lain. Ketika kita dikumpulkan dan mendengarkan kisah-kisah penuh perjuangan, terlintas juga kapan saya bisa mulai berbagi kalau tidak dari sekarang,” ungkap Dini.

Karya para penyandang disabilitas kini tak lagi dipandang sebelah mata. Desain-desain unik mereka yang berpadu dengan teknik-teknik mode yang khas Dama Kara tercetak abadi di produk-produk busana seperti kebaya, baju luaran, dan rok.

Berbagai ragam busana itu pun telah memiliki tempat tersendiri di pecinta mode, seperti dikenakan oleh sejumlah selebritas dan pemengaruh. Tak hanya di Tanah Air, kreasi busana yang dirintis Dini juga telah memiliki pasar di mancanegara hingga Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Korea Selatan.

Sejumlah karya adibusana Dama Kara juga mulai menapak ke panggung fesyen dunia. Wastra-wastra Nusantara yang menjadi ruang ekspresi penyandang disabilitas itu mewakili Indonesia di ajang Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF) di Perancis dan Handarty Korea di Korea Selatan beberapa waktu lalu. 

Seiring dengan itu, potensi ekonomi Dama Kara terus meningkat. Namun, Dini yakin jika hanya mencari keuntungan finansial, suatu bisnis tak akan bertahan lama. Sebuah usaha harus dibangun dan dikembangkan dengan memberi dampak nyata bagi sekitar. 

“Sebuah bisnis akan terus ada selama dampaknya bisa dirasakan secara langsung oleh orang lain. Dama Kara saat ini terus berkembang dan bertumbuh karena teman-teman penyandang disabilitas juga membantu kita,” tandas Dini.

Dengan membuat disabilitas berdaya, Dama Kara bisa menjadi model bagi generasi muda dalam mengembangkan sebuah usaha yang berdampak. Menurut Dini, dampak ini tidak harus sesuatu yang besar dan bisa diawali dari kepekaan terhadap lingkungan.

“Jadi, coba untuk melihat sekeliling dan memberikan dampak dari hal-hal terkecil. Tidak perlu menunggu nanti, tidak perlu menunggu beberapa tahun lagi, tapi kita bisa memulainya sekarang. Start small and do your best,” pungkasnya. (H-2)
 

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |