Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.(Antara)
GUBERNUR Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menghadiri kegiatan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru Universitas Padjadjaran (Unpad) di kampus Jatinangor pada Senin (10/8). Di hadapan ribuan mahasiswa yang baru memulai perjalanan akademik mereka, mantan Bupati Purwakarta ini menyampaikan pesan-pesan mendalam mengenai ketangguhan, semangat juang, dan pentingnya menjaga tekad dalam meraih cita-cita.
Dalam orasinya, Dedi Mulyadi menekankan agar generasi muda tidak mudah menyerah pada situasi sulit. Ia meminta para mahasiswa untuk tidak berkecil hati dengan latar belakang atau kondisi ekonomi yang mungkin terbatas.
"Jangan kecil hati dengan keadaan. Justru kita balik, keadaan itu adalah jalan untuk menuju kemajuan," tegas Dedi di hadapan ribuan mahasiswa baru.
Dedi menggunakan analogi yang dekat dengan keseharian anak muda, yakni permainan sepak bola, untuk menggambarkan kerasnya tantangan hidup. Menurutnya, tekanan yang datang bertubi-tubi dalam hidup seharusnya tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai momentum untuk bangkit.
"Kalau orang mengerti main bola, jangan pernah sedih dengan serangan. Karena serangan bisa menjadi potensi untuk kita memberikan balasan gol," ujarnya. Analogi ini mengajak mahasiswa untuk melihat setiap kesulitan sebagai peluang besar untuk mencapai tujuan hidup yang lebih tinggi.
Pendidikan Tinggi: Amanah yang Harus Dituntaskan
Menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) merupakan impian bagi jutaan anak di Indonesia. Oleh karena itu, Dedi mengingatkan para mahasiswa Unpad agar tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang telah mereka peroleh.
Ia secara khusus menyoroti isu biaya pendidikan yang sering kali dianggap sebagai penghambat utama. Namun, bagi Dedi, faktor ekonomi bukanlah alasan mutlak untuk berhenti di tengah jalan.
Pesan Dedi Mulyadi tentang Biaya Kuliah:
"Jangan pernah berpikir Anda tidak selesai kuliah karena biaya. Tidak selesai kuliah karena Anda tidak bisa mendapat makan dalam setiap hari. Kenapa? Tidak ada orang yang gagal kuliah hanya karena faktor biaya saja. Tetapi faktor yang lain adalah tekad kita untuk bisa melewati masa-masa sulit."
Daya Tahan dan Filosofi "Negatif Kali Negatif Jadi Positif"
Dedi juga memaparkan teori menarik mengenai daya tahan tubuh dan mental. Ia mencontohkan para pekerja di tempat pembuangan sampah yang setiap hari bersentuhan dengan bakteri dan virus namun tetap memiliki fisik yang kuat karena terbiasa dengan lingkungan yang keras.
Ia menganalogikan hal tersebut dengan kesulitan hidup. "Karena dia dalam setiap hari bergumul dengan bakteri atau virus, negatif kali negatif jadi positif. Siapa yang sering batuk pilek? Mereka yang jarang kehujanan. Mereka yang sering kehujanan tidak akan pernah kena penyakit pilek," bebernya.
Menurutnya, berbagai cobaan hidup justru merupakan "penguat" bagi generasi muda agar mampu bertahan dalam persaingan dunia yang semakin keras.
Menutup pesannya, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kesuksesan bersifat demokratis dan bisa diraih oleh siapa saja yang memiliki kemauan keras, tanpa memandang status sosial orang tua.
"Yakinlah banyak orang yang berdiri tegak dalam setiap hari bukan karena orang tuanya yang kaya, bukan karena orang tuanya yang pejabat tinggi. Tapi dia sukses karena dirinya punya keinginan untuk menjadi orang sukses," pungkasnya. (BY/I-1)

















































