Destry Damayanti Dinilai Sosok Tepat untuk Pimpin BI

1 day ago 1
Destry Damayanti Dinilai Sosok Tepat untuk Pimpin BI Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (kanan) mengucapkan sumpah jabatan saat pelantikannya di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (7/8/2024).(Antara)

KEPALA Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai  keputusan Presiden Prabowo mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia merupakan pilihan yang tepat untuk menjaga kesinambungan kebijakan moneter sekaligus mempersiapkan Bank Indonesia menghadapi perubahan ekonomi global yang berlangsung semakin cepat.

Menurut Fakhrul, Destry merupakan salah satu teknokrat moneter paling lengkap yang pernah dimiliki Indonesia. Pengalamannya yang membentang dari dunia akademik, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga lebih dari tujuh tahun berada di jajaran Dewan Gubernur Bank Indonesia menjadikannya memiliki perspektif yang utuh mengenai bagaimana kebijakan moneter bekerja, bagaimana pasar merespons kebijakan, dan bagaimana stabilitas sistem keuangan harus dijaga. Kombinasi pengalaman seperti tersebut dianggap penting ketika tantangan bank sentral semakin kompleks.

"Menurut saya, Ibu Destry Damayanti adalah salah satu teknokrat moneter paling lengkap yang pernah dimiliki Indonesia," ujar Fakhrul dalam keterangannya, Senin (10/8). 

Fakhrul menilai tantangan Gubernur Bank Indonesia berikutnya tidak lagi sama seperti ketika kerangka inflation targeting pertama kali dibangun lebih dari dua dekade lalu.
Menurutnya, bank sentral kini memasuki era baru ketika perubahan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), digitalisasi, fragmentasi perdagangan global, perubahan rantai pasok, transisi energi, perubahan demografi hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik mulai mengubah cara perekonomian bekerja.

Ia mengatakan dunia yang akan dihadapi Gubernur BI berikutnya bukan lagi dunia ketika inflasi dan suku bunga menjadi satu-satunya variabel utama yang menentukan arah ekonomi. 

"Kita sedang memasuki periode ketika AI mengubah produktivitas, digitalisasi mengubah sistem pembayaran, deglobalisasi mengubah rantai pasok, dan geopolitik mengubah arah arus modal global," ucapnya.

Menurut Fakhrul, perubahan tersebut membuat tantangan bank sentral semakin luas. Perubahan yang sedang terjadi bukan sekadar perubahan siklus ekonomi, tetapi perubahan struktur ekonomi dunia. Karena itu, bank sentral harus mampu membaca perubahan jangka panjang, bukan hanya mengelola fluktuasi jangka pendek.

Fakhrul berpendapat, Destry tidak tepat dilihat melalui dikotomi klasik antara hawkish maupun dovish sebagaimana sering digunakan dalam menilai bank sentral.

Menurutnya, selama beberapa tahun terakhir keputusan Dewan Gubernur BI lebih mencerminkan pendekatan yang pragmatis dan berorientasi pada stabilitas, yaitu mengambil langkah tegas ketika kredibilitas kebijakan dan stabilitas rupiah membutuhkan respons, namun tetap memperhatikan bagaimana kebijakan tersebut ditransmisikan kepada perekonomian domestik.

"Saya tidak melihat Ibu Destry sebagai seorang hawk ataupun dove. Saya melihat beliau sebagai seorang central banker yang adaptif dan berorientasi pada stabilitas dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan," ucapnya.

Fakhrul mengatakan ketika kondisi membutuhkan kebijakan yang tegas untuk menjaga kredibilitas dan stabilitas pasar, beliau mendukung langkah tersebut. Namun ketika stabilitas mulai terbentuk, fokus berikutnya tentu memastikan likuiditas dan transmisi kebijakan dapat kembali mendukung sektor riil untuk pertumbuhan ekonomi.

Menurut Fakhrul, pendekatan tersebut akan semakin penting ketika Bank Indonesia memasuki fase normalisasi setelah periode stabilisasi yang cukup panjang.

Menurut Fakhrul, pekerjaan terbesar Gubernur BI berikutnya bukan hanya mengambil keputusan yang tepat, tetapi juga membangun komunikasi yang mampu menjelaskan perubahan dunia kepada pasar dan masyarakat.

Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, kepastian komunikasi mempunyai nilai ekonomi yang sangat besar. Pasar disebut tidak hanya membutuhkan keputusan yang tepat, tetapi juga membutuhkan pemahaman mengenai mengapa keputusan tersebut diambil.

"Dan bagaimana berbagai instrumen digunakan secara bersama-sama, dan ke mana arah kebijakan berikutnya," pungkasnya. (E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |