Ilustrasi.(Magnific)
TAHUN lalu, Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, menyatakan bahwa pembuatan kebijakan yang tidak menentu di Amerika Serikat (AS) tengah membuka jalan bagi munculnya momen euro global. Peringatan ini kini terasa semakin relevan seiring dengan meningkatnya keraguan dunia terhadap dominasi dolar AS sebagai mata uang cadangan utama.
Amerika Serikat telah lama memanfaatkan status istimewa greenback sebagai alat kebijakan luar negeri, terutama melalui penerapan sanksi keras terhadap lawan-lawannya seperti Iran dan Rusia. Namun, intensifikasi penggunaan sanksi finansial ini justru memicu kekhawatiran bahwa AS sedang memaksa negara lain untuk mencari alternatif di luar sistem keuangan Amerika.
Operasi Economic Outcast dan Risiko Sistemik
Meskipun sempat ada upaya untuk mengurangi program sanksi awal tahun ini, arah kebijakan berubah tajam pada Agustus lalu. Scott Bessent mengumumkan inisiatif bertajuk Operation Economic Outcast yang bertujuan mencekik ekonomi Iran. Program ini mengancam sanksi sekunder bagi negara mana pun yang mempertahankan hubungan ekonomi dengan Teheran.
Langkah agresif ini diakui oleh Menteri Keuangan AS sendiri memiliki risiko besar. Jika ancaman tersebut benar-benar dilaksanakan, hal itu berpotensi meledakkan sistem keuangan global karena keterkaitan ekonomi antarnegara yang sangat erat.
Teknologi Digital dan Kebangkitan Emas
Di tengah ketidakpastian ini, musuh-musuh AS mulai menemukan celah baru melalui teknologi. Munculnya mata uang digital bank sentral (CBDC), stablecoin, dan kripto memberikan jalur alternatif untuk transaksi internasional tanpa harus melewati sistem perbankan AS. Tiongkok, misalnya, telah memimpin pengembangan platform mata uang digital lintas batas.
"Kisah menjauh dari dolar adalah salah satu kisah tertua yang ada," ujar Josh Lipsky, Ketua Ekonomi Internasional di Atlantic Council. Ia menambahkan bahwa teknologi kini membuat upaya tersebut menjadi lebih murah dan mudah dibandingkan sebelumnya.
Selain uang digital, banyak negara kembali melirik aset tradisional: emas. Pada tahun 2025, cadangan internasional dunia dalam bentuk emas secara resmi melampaui kepemilikan resmi asing atas surat utang negara (Treasury) AS. Tahun ini, harga emas bahkan mencetak sejarah dengan menembus angka US$5.000 per troy ounce (sekitar Rp78,5 juta dengan asumsi kurs Rp15.700) seiring langkah bank sentral dunia menimbun logam mulia tersebut.
Erosi Kepercayaan terhadap Safe Haven
Ketidakpercayaan terhadap AS juga terlihat dari langkah repatriasi emas secara besar-besaran. Bulan ini, Bank Sentral Belanda memindahkan sebagian besar dari 95 ton cadangan emasnya keluar dari AS dengan alasan kerusuhan geopolitik yang meningkat. Sebelumnya, pada Maret, Bank Prancis juga menarik 129 ton emas dari Federal Reserve Bank of New York untuk dibawa kembali ke Paris.
Daniel Tannebaum, pakar risiko dari Oliver Wyman, menilai bahwa penggunaan tarif dan kontrol ekspor yang agresif membuat negara-negara Eropa waspada. Mereka khawatir ketergantungan pada infrastruktur teknologi AS, seperti kecerdasan buatan (AI), dapat digunakan sebagai senjata politik di masa depan.
"Pemerintah dan perusahaan sekarang harus bertanya apa yang akan terjadi jika Amerika Serikat membalikkan pengaruh ekonominya terhadap mereka," pungkas Tannebaum. Fenomena ini menandai erosi serius terhadap status Amerika Serikat sebagai pelabuhan aman (safe haven) bagi ekonomi dunia. (The New York Times/I-2)


















































