ilustrasi(Antara)
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, memproyeksikan perekonomian Indonesia tetap tumbuh solid di kisaran 5% pada paruh kedua 2026. Meski demikian, momentum pertumbuhan ini dibayangi oleh sejumlah tekanan signifikan, baik dari kondisi global maupun domestik.
Dalam pemaparannya di Permata Institute for Economic Research (PIER) Economic Review Kuartal II 2026, Senin (11/8), Josua menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi secara full year diperkirakan mencapai 5,26%. Namun, ia memberikan catatan bahwa laju pertumbuhan pada kuartal III dan IV 2026 diprediksi akan mengalami pelandaian.
Empat Risiko Global Utama
Josua mengidentifikasi empat risiko eksternal yang berpotensi menekan prospek ekonomi nasional pada semester II 2026:
- Ketegangan Geopolitik: Konflik di Timur Tengah yang berisiko memicu kenaikan harga energi dan tekanan inflasi global.
- Perang Dagang: Ketidakpastian perdagangan internasional yang dapat menekan kinerja ekspor Indonesia sekaligus meningkatkan volume impor, sehingga memperlebar defisit transaksi berjalan.
- Kebijakan Bank Sentral: Perbedaan arah kebijakan moneter global yang memicu volatilitas di pasar keuangan, nilai tukar, dan pasar obligasi.
- Perlambatan Ekonomi China: Krisis sektor properti di China sebagai mitra dagang utama Indonesia berpotensi menurunkan permintaan komoditas domestik.
Proyeksi Indikator Makroekonomi
Selain pertumbuhan PDB, PIER juga merilis proyeksi terkait nilai tukar Rupiah, suku bunga, dan defisit fiskal. Rupiah diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan dolar AS hingga akhir tahun 2026.
| Pertumbuhan Ekonomi (PDB) | 5,26% | 5,33% (Tahun 2028) |
| Nilai Tukar Rupiah (per USD) | Rp17.900 | Rp17.500 (Tahun 2028) |
| Suku Bunga Acuan | 5,75% | Pelonggaran mulai 2028 |
| Defisit Fiskal | ~3% | Tetap Ekspansif |
Inflasi dan Kebijakan Moneter
Dari sisi domestik, tekanan inflasi diperkirakan meningkat pada akhir 2026 akibat faktor cuaca ekstrem seperti El Nino. Namun, kondisi ini diprediksi bersifat temporer dan akan melandai pada tahun berikutnya seiring normalisasi cuaca.
Terkait kebijakan moneter, Josua memprediksi suku bunga akan bertahan di level 5,75% selama dua tahun ke depan untuk menjaga stabilitas. "Di tahun depan akan ada efek kelambatan akibat kenaikan suku bunga tahun ini, namun pada 2028 kondisi akan membaik ke level 5,33 persen," pungkasnya.
Penguatan fundamental domestik dan kebijakan fiskal yang tepat menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk bertahan dari tekanan eksternal dan menjaga pertumbuhan tetap di level psikologis 5%. (E-3)

















































