Greenland.(Anadolu)
PEMERINTAH Greenland melayangkan peringatan keras kepada sebuah perusahaan minyak asal Texas, Amerika Serikat, yang memiliki keterkaitan dengan Presiden AS Donald Trump. Langkah tegas ini diambil setelah perusahaan tersebut kedapatan membawa peralatan pengeboran ke wilayah pulau tersebut tanpa mengantongi izin resmi dari otoritas setempat.
Berdasarkan laporan The Telegraph pada Minggu (9/8), Departemen Industri dan Mineral Greenland mengonfirmasi bahwa sejumlah peralatan telah mendarat di pantai timur Greenland bulan lalu. Peralatan tersebut dimaksudkan untuk mendukung rencana pengeboran eksplorasi minyak di wilayah Jameson Land, yang diperkirakan menyimpan cadangan minyak mentah senilai hingga US$1 triliun atau sekitar Rp15.800 triliun.
"Peringatan keras akan disampaikan kepada pemegang lisensi," tegas pernyataan resmi dari departemen tersebut, merujuk pada pelanggaran prosedur administratif yang dilakukan oleh pihak pengembang.
Ambisi Energi di Jameson Land
Proyek ambisius ini didanai oleh Greenland Energy, sebuah perusahaan berbasis di Texas yang baru didirikan tahun lalu. Perusahaan ini telah memperoleh saham mayoritas dalam proyek eksplorasi tersebut sebagai imbalan atas pendanaan yang mereka kucurkan. Namun, otoritas Greenland menekankan bahwa kepemilikan saham tidak serta-merta memberikan hak untuk memulai aktivitas fisik tanpa persetujuan regulator.
Kontroversi ini mencuat di tengah meningkatnya kembali minat Amerika Serikat terhadap Greenland. Tak lama setelah warga lokal melaporkan adanya peralatan pengeboran yang dibawa ke daratan, Donald Trump mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) melalui platform Truth Social. Gambar tersebut memperlihatkan sosoknya yang sedang mengawasi sebuah desa di Greenland dengan takarir bertuliskan "Hello, Greenland!".
Konteks Geopolitik: Donald Trump sebelumnya memicu kecaman internasional pada Januari 2025 setelah menyatakan niatnya untuk mengambil alih Greenland dengan kekuatan militer demi kepentingan keamanan nasional AS. Meski kemudian melunakkan retorikanya, Trump tetap menyebut Greenland sebagai wilayah "vital" bagi sistem pertahanan rudal Golden Dome yang ia usulkan.
Klarifikasi Greenland Energy
Menanggapi ketegangan yang terjadi, Greenland Energy membantah adanya hubungan langsung antara proyek minyak mereka dengan rencana politik atau militer Trump untuk mencaplok Greenland. Pemimpin Greenland Energy, Larry Swets, mengakui adanya kesalahan komunikasi internal pada Juni lalu.
Swets menjelaskan bahwa seorang perwakilan perusahaan secara keliru menginformasikan kepada warga setempat bahwa izin untuk membawa peralatan ke daratan telah diberikan. "Antusiasme kami terhadap proyek ini membuat kami berkomunikasi dengan cara yang menimbulkan kebingungan," ujar Swets dalam keterangannya.
Dalam surat terbaru kepada para pemegang saham yang dirilis Kamis, pihak Greenland Energy menyatakan bahwa pembicaraan dengan regulator Greenland saat ini berlangsung secara "konstruktif". Perusahaan tetap optimistis dapat segera memperoleh persetujuan yang diperlukan untuk memulai proses pengeboran secara legal di wilayah tersebut. (Anadolu/Ant/I-1)

















































