.(Dok Istimewa )
PERTUMBUHAN jumlah investor aset kripto di Indonesia membuat pemahaman terhadap karakteristik dan risiko instrumen tersebut semakin penting. Investor tidak hanya perlu mengetahui potensi keuntungan, tetapi juga memahami cara kerja aset, risiko pergerakan harga, serta aspek keamanan dalam bertransaksi.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor aset kripto di Indonesia mencapai 22,69 juta orang per Juni 2026. Pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp28,58 triliun.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap aset kripto sebagai salah satu instrumen investasi. Namun, peningkatan jumlah investor juga perlu diimbangi dengan literasi yang memadai agar keputusan investasi tidak semata didorong oleh tren.
Pemahaman mengenai karakteristik produk, manajemen risiko, serta keamanan transaksi menjadi bagian penting, khususnya bagi investor pemula. Risiko juga tidak hanya berkaitan dengan perubahan nilai aset, tetapi mencakup potensi penipuan dan berbagai modus kejahatan yang menyasar pengguna baru.
Edukasi mengenai aset kripto menjadi salah satu upaya untuk memperkuat pemahaman tersebut. Salah satunya dilakukan melalui program Pintu Goes to Office yang digelar PT Pintu Kemana Saja (PINTU) bersama PT Ruang Raya Indonesia (Ruangguru) di kantor pusat Ruangguru pada Kamis (6/8).
Chief Marketing Officer (CMO) PINTU Timothius Martin mengatakan kebutuhan terhadap edukasi semakin relevan seiring mulai munculnya minat pekerja muda terhadap aset kripto.
“Kami melihat semakin banyak karyawan muda, khususnya di industri teknologi yang mulai melirik aset crypto sebagai bagian dari portofolio investasi, tetapi belum sepenuhnya memahami karakteristik produk, risiko, dan cara mengelolanya dengan bijak,” kata Timothius dikutip Senin (10/8).
Menurut dia, edukasi perlu diberikan dengan materi yang aplikatif dan mudah dipahami agar dapat membantu masyarakat memahami instrumen keuangan yang diminati.
“Melalui program ini, kami ingin memastikan edukasi ini menjangkau mereka langsung di tempat kerja, dengan materi yang aplikatif dan mudah dipahami,” ucapnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi dasar mengenai aset kripto. Edukasi juga dilakukan melalui studi kasus dan sesi tanya jawab interaktif agar peserta dapat menghubungkan materi dengan pengambilan keputusan dalam aktivitas trading maupun investasi.
Peserta juga diperkenalkan dengan sejumlah fitur pada platform PINTU yang dirancang untuk mendukung aktivitas investasi secara terukur dan disiplin.
Dari sisi perusahaan, literasi keuangan dinilai menjadi bagian dari pengembangan diri dan kesejahteraan finansial karyawan. Chief Financial Officer (CFO) Ruangguru Arman Wiratmoko mengatakan pemahaman yang memadai diperlukan agar keputusan terkait investasi tidak sekadar mengikuti tren.
“Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan, kami percaya literasi keuangan adalah bagian tak terpisahkan dari pengembangan diri karyawan,” ujar Arman.
Menurut Arman, edukasi mengenai aset kripto memberikan kesempatan bagi karyawan untuk memahami instrumen tersebut secara lebih komprehensif dan bertanggung jawab.
“Sehingga karyawan yang berminat untuk melakukan trading atau berinvestasi dalam aset kripto dapat mengambil keputusan investasi dengan didasari pengetahuan yang memadai, bukan sekadar ikut tren,” tuturnya.
Aspek keamanan juga menjadi bagian dari materi edukasi. Hal tersebut berkaitan dengan meningkatnya perhatian terhadap berbagai modus penipuan yang menyasar investor pemula, sehingga pemahaman mengenai cara menjaga keamanan dalam bertransaksi menjadi bagian dari literasi aset kripto.
Bagi investor, pemahaman tersebut dapat menjadi dasar sebelum menentukan strategi, memilih aset, maupun mengambil keputusan terkait trading atau investasi. Dengan demikian, peningkatan jumlah investor dapat berjalan seiring dengan meningkatnya pemahaman terhadap peluang dan risiko yang menyertai aset kripto.
Timothius mengatakan investor yang memiliki pengetahuan memadai diperlukan untuk membangun ekosistem aset kripto yang lebih matang.
“Kami percaya bahwa trader dan investor yang teredukasi akan menjadi fondasi ekosistem kripto yang lebih matang. Kami berharap inisiatif ini dapat mendorong lahirnya lebih banyak trader dan investor yang memahami peluang dan risiko terkait aset kripto, sehingga mampu berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam mendukung perkembangan industri aset krippto di Indonesia,” tutup Timothius. (E-4)

















































