Iran Tegaskan Waktu Perang dan Damai tidak Ditentukan AS

2 weeks ago 4
Iran Tegaskan Waktu Perang dan Damai tidak Ditentukan AS Esmaeil Baghaei.(Al Jazeera)

PEMERINTAH Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan Amerika Serikat (AS) mendikte kapan kedua negara harus berperang atau berdamai. Pernyataan ini muncul di tengah jeda kontak senjata selama empat malam berturut-turut yang membangkitkan harapan akan keberhasilan mediasi pimpinan Qatar dan Pakistan untuk menghidupkan kembali kesepakatan interim yang sempat runtuh.

"Kami tidak akan membiarkan Amerika Serikat menentukan waktu perang dan damai," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam pengarahan pers mingguan pada Senin (27/7/2026).

Baghaei menyatakan bahwa setiap keputusan mengenai negosiasi di masa depan akan didasarkan sepenuhnya pada kepentingan nasional Iran. Ia juga menekankan bahwa Teheran akan terus mempertahankan diri selama diperlukan. Meski mengakui adanya pertukaran pesan yang masih berlangsung antara Teheran dan Washington, Baghaei menyebut tindakan militer AS merusak kondisi untuk negosiasi yang bermakna.

Klaim Trump dan Tekanan Militer

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa Iran meminta pembicaraan baik melalui perantara maupun secara langsung. Trump menilai kesediaan Teheran untuk bernegosiasi merupakan dampak dari tekanan militer yang masif.

"Kami sedang mengadakan pembicaraan mendalam dengan Iran," ujar Trump kepada wartawan. Namun, ia memberikan peringatan keras. "Jika pembicaraan ini gagal, kami akan kembali ke operasi militer skala luas."

Trump menambahkan bahwa ia merespons positif permintaan mediator untuk memberi kesempatan pada diplomasi, tetapi ia menegaskan tidak akan membiarkan pembicaraan berlarut-larut tanpa batas waktu.

Kebuntuan di Selat Hormuz

Meskipun upaya diplomatik diperbarui, krisis di Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial yang belum terselesaikan. Jalur air strategis yang dilalui seperlima perdagangan minyak dan gas dunia ini tetap ditutup oleh Iran sejak dimulai perang pada 28 Februari lalu.

Baghaei menyatakan bahwa pembicaraan dengan Oman mengenai pengelolaan jalur tersebut terus berlanjut. Namun ia menekankan bahwa urusan itu bersifat bilateral dan tidak melibatkan AS. Wakil Ketua Parlemen Iran, Haji Babaii, juga menegaskan bahwa keputusan atas Hormuz sepenuhnya berada di tangan kepemimpinan dan rakyat Iran.

Ketegangan di laut terus meningkat dengan laporan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang mencegat enam kapal yang mencoba melintasi rute tidak resmi. Sementara itu, Komando Pusat AS (Centcom) melaporkan telah mengalihkan 17 kapal komersial dan menahan dua kapal lainnya untuk menegakkan pembatasan maritim.

Dampak Ekonomi: Harga minyak mentah Brent dilaporkan mulai turun setelah mencapai level tertinggi dalam dua bulan pekan lalu, bereaksi positif terhadap absennya serangan militer baru.

Krisis Domestik dan Eskalasi Regional

Jeda militer sementara ini belum meringankan beban ekonomi di dalam negeri Iran. Warga masih menghadapi kekurangan listrik, ketidakseimbangan bahan bakar, serta inflasi yang menghancurkan daya beli. Laporan menunjukkan banyak keluarga di Teheran terpaksa memangkas konsumsi bahan pangan esensial, termasuk buah-buahan, karena pendapatan yang tidak sebanding dengan kenaikan harga.

Di tingkat regional, situasi semakin rumit dengan intensifikasi serangan pasukan Houthi yang didukung Iran terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi di Laut Merah. Serangan ini memicu serangan udara balasan dari Arab Saudi ke Yaman, yang mengakibatkan perlambatan signifikan pada pengiriman komersial melalui Selat Bab al-Mandeb.

Trump memperingatkan bahwa meskipun saat ini AS tidak terlibat dalam operasi melawan Houthi, Washington siap melakukan intervensi jika kelompok tersebut menjadi masalah yang lebih besar bagi kepentingan global. (Euronews/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |