Kaspersky Soroti Ancaman AI dan Kesenjangan Visibilitas Siber di Asia Pasifik

1 day ago 1
Kaspersky Soroti Ancaman AI dan Kesenjangan Visibilitas Siber di Asia Pasifik Ilustrasi(magnific)

KAWASAN Asia Pasifik (APAC) kini menghadapi tantangan keamanan siber yang semakin kompleks seiring dengan masifnya penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) oleh para pelaku kejahatan.

Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, Adrian Hia, mengungkapkan bahwa organisasi saat ini tidak hanya berpacu dengan waktu, tetapi juga melawan "ketidakjelasan" atau kesenjangan visibilitas terhadap sistem mereka sendiri.

Menurut Hia, integrasi AI dalam serangan siber memungkinkan peretas bergerak lebih cepat daripada kemampuan organisasi untuk mendeteksi dan merespons. Hal ini menciptakan titik buta yang signifikan, baik di lingkungan Teknologi Informasi (TI) maupun Teknologi Operasional (OT).

Era Baru Ancaman Siber: Serangan Berbasis AI

Kaspersky mencatat adanya tren peningkatan serangan yang memanfaatkan AI, sabotase infrastruktur, hingga spionase siber yang canggih. Salah satu temuan yang mengkhawatirkan adalah munculnya agen AI sebagai lapisan rantai pasokan baru yang rawan disalahgunakan.

“Tahun ini saja, Kaspersky telah mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak AI agen. Karena agen ini bergantung pada API dan plugin pihak ketiga, satu kompromi di hulu dapat berdampak luas ke seluruh sistem hilir,” jelas Hia.

Data terbaru dari divisi Kaspersky Compromise Assessment menunjukkan betapa lamanya aktivitas berbahaya dapat bersembunyi di dalam jaringan organisasi tanpa terdeteksi:

Kategori Temuan Statistik / Durasi
Insiden dengan aktivitas berbahaya > 3 bulan 31% dari total insiden
Pelanggaran tingkat tinggi baru ditemukan setelah 90 hari 52%
Insiden tertua yang tidak terdeteksi 4 tahun
Deteksi file berbahaya harian (rata-rata) 500.000 file (naik 7% vs 2024)

Pentingnya SOC Modern dan Kolaborasi Manusia-Mesin

Menghadapi ancaman yang semakin "asli AI" (AI-native), Kaspersky menekankan bahwa investasi pada teknologi saja tidak cukup. Organisasi memerlukan Pusat Operasi Keamanan (SOC) yang matang untuk memperpendek jendela waktu serangan dan memberikan visibilitas penuh.

Kaspersky sendiri telah menerapkan filosofi "Kecerdasan Manusia-Mesin" selama dua dekade. Sejak 2004, perusahaan telah menyempurnakan model Machine Learning (ML) yang dilatih menggunakan telemetri global dari jutaan titik akhir secara etis.

“AI bukanlah tambahan di Kaspersky, melainkan tertanam di seluruh lapisan teknologi kami untuk deteksi lebih cepat dan otomatisasi lebih cerdas,” tambah Hia.

Solusi Terintegrasi untuk Visibilitas Penuh

Untuk membantu organisasi di APAC, Kaspersky menawarkan lini produk Kaspersky Next yang menyediakan kemampuan EDR/XDR serta model AI generatif untuk mengubah data mentah menjadi intelijen yang dapat ditindaklanjuti. Langkah ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan keterampilan tim keamanan di lapangan.

Selain solusi teknis, Kaspersky juga menyediakan layanan terkelola seperti MDR (Managed Detection and Response), Incident Response, serta layanan konsultasi SOC Consulting untuk membantu perusahaan membangun pusat keamanan yang tangguh sejak tahap awal hingga peningkatan operasional. (Z-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |