Upaya pemadaman karhutla.(Dok. Antara)
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rangkaian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebar di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur selama akhir pekan lalu. Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi salah satu episentrum kebakaran dengan lahan terbakar mencapai 15 hektare di Kabupaten Tana Toraja, memaksa tim gabungan berjibaku memadamkan api hingga Minggu (9/8).
Musim kemarau yang kian ekstrem menjadi penyebab utama meluasnya bencana hidrometeorologi kering ini, bersamaan dengan ancaman krisis air bersih yang mulai membayangi. BNPB pun mengeluarkan peringatan dini terkait peningkatan intensitas karhutla di kawasan Indonesia Timur berdasarkan laporan periode 9–10 Agustus 2026.
Titik Kritis di Sulawesi Selatan dan Tengah
Di Sulawesi Selatan, kebakaran terbesar terjadi di Kelurahan Marinding, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja. Api mulai berkobar sejak Jumat (7/8) pukul 12.00 WITA. Tim Reaksi Cepat BPBD Tana Toraja bersama TNI, Polri, dan masyarakat masih melakukan upaya pemadaman berat hingga Minggu.
Kondisi diperumit dengan munculnya dua titik api baru di wilayah Tallang Sura pada Senin (10/8). Angin kencang dan semak belukar yang mengering menjadi faktor utama cepatnya api merambat.
Sementara itu, Sulawesi Tengah mencatat skala kebakaran yang lebih masif. Di Pulau Bakalan, Kabupaten Banggai Kepulauan, api melalap 72,4 hektare kawasan hutan di Desa Bakalan dan Desa Bulungkobit. Meski luas, BPBD melaporkan api di lokasi tersebut berhasil dipadamkan dengan cepat.
Karhutla juga melanda Kabupaten Tojo Una-Una, tepatnya di Desa Longge, Kecamatan Ampana Tete, hingga merambat ke lereng Gunung Batu Pongki. Lahan seluas 3 hektare terbakar, namun situasi saat ini dilaporkan sudah terkendali.
Dampak di Maluku Utara dan Papua Barat Daya
Bergeser ke Maluku Utara, BPBD Kabupaten Halmahera Timur melaporkan kebakaran di tiga kecamatan (Wasile Timur, Wasile Selatan, dan Wasile) pada Sabtu (8/8). Total lahan yang hangus mencapai 23 hektare. Tim gabungan terpaksa menggunakan peralatan sederhana dan pembuatan sekat bakar untuk menahan laju api.
Di ujung timur Indonesia, Kota Sorong, Papua Barat Daya, juga tidak luput dari ancaman. Kebakaran melanda Gunung Malanu di Distrik Sorong Utara dan Distrik Sorong Barat dengan luas lahan terdampak masing-masing 1 hektare.
Peringatan BNPB: Stop Bakar Sampah
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar selama puncak kemarau.
Selain ancaman api, BNPB mengingatkan potensi krisis air bersih. Masyarakat diminta mulai menghemat penggunaan air, memperbaiki kebocoran pipa, dan menyimpan cadangan air selama pasokan tersedia.
Di tengah fokus pada bencana hidrometeorologi kering, Abdul Muhari juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana geologi seperti gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu, serta memastikan kesiapan tas siaga bencana di setiap rumah. (H-3)

















































