Konflik Antardesa di Adonara Berakhir Damai Melalui Ritual Adat

22 hours ago 1
Konflik Antardesa di Adonara Berakhir Damai Melalui Ritual Adat Ritual adat untuk menyelesaikan konflik di Adonara NTT.(Dok. Antara)

KONFLIK antardesa yang sempat memicu ketegangan di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi berakhir melalui jalan damai. Penyelesaian sengketa tersebut dilakukan melalui rangkaian ritual adat dan kesepakatan bersama yang melibatkan tokoh adat, tokoh agama, pemerintah, serta masyarakat setempat.

Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, yang hadir langsung menyaksikan proses perdamaian pada Senin (10/8/2026), memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang memilih jalur dialog. Menurutnya, kebesaran hati para tokoh masyarakat sangat krusial untuk memulihkan persaudaraan dan menghentikan dendam.

"Dalam kehidupan itu memang kadang-kadang konflik tidak dapat dihindari. Tetapi yang paling penting adalah kita belajar dari situ untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama," ujar Johni.

Ia menekankan bahwa konflik pertanahan yang terjadi sebelumnya telah membawa dampak buruk, termasuk korban jiwa dan kerugian harta benda. Johni mengingatkan bahwa dalam sebuah konflik, tidak ada pihak yang benar-benar menang karena yang menjadi korban utama adalah ikatan persaudaraan.

"Melalui ritual Lepan Dopi Ledan Gala dan Jeda Sakral, kita diingatkan untuk meletakkan Dopi (perisai) dan Gala (tombak). Mari kita kembali menghidupkan semangat hidup rukun sebagai kakak dan adik karena berasal dari satu rahim yang sama," tambahnya.

Pentingnya Stabilitas untuk Pembangunan

Lebih lanjut, Johni menjelaskan bahwa suasana aman dan damai merupakan syarat mutlak bagi keberlanjutan pembangunan di Adonara. Program pemerintah seperti pembangunan jalan, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga pengembangan ekonomi dan pariwisata tidak akan berjalan maksimal jika masyarakat berada dalam situasi konflik.

Kehadiran jajaran pimpinan daerah lintas sektor, termasuk Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen, Wakil Bupati Ignasius Boli, serta unsur TNI dan HAM, mempertegas komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah tersebut.

Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, turut menyampaikan terima kasih kepada para ama-ama (bapak-bapak) dan tetua adat yang telah mengambil keputusan besar untuk berdamai. "Hari ini merupakan tonggak yang teramat penting bagi kita seluruh masyarakat Adonara, di mana kita dapat menyaksikan peristiwa yang sangat bersejarah ini," kata Antonius.

Prosesi Ritual dan Sumpah Adat

Rangkaian rekonsiliasi ini ditandai dengan pembacaan komitmen damai dan penandatanganan Berita Acara Kesepakatan Damai. Setelah itu, dilakukan Sumpah Adat dan Ritual Bau Lolon oleh tetua adat dari Lewonara dan Bele sebagai bentuk pengukuhan sakral di hadapan Rera Wulan Tana Ekan (Tuhan dan Alam Semesta).

Masyarakat juga menjalani ritual sambung koda haten untuk memulihkan hubungan kekeluargaan atau kaka ari. Ritual ini bertujuan menghentikan lingkaran dendam antargenerasi dan memohon berkat kepada Tuhan (Ala Teten Rena) serta leluhur dan tanah (Lemu Tanah).

Konteks Peristiwa

Rekonsiliasi ini merupakan puncak dari penyelesaian sengketa lahan yang memicu bentrokan pada Sabtu (18/7/2026) lalu. Peristiwa tragis tersebut mengakibatkan 3 orang meninggal dunia dan 68 unit rumah warga terbakar.

Dengan tercapainya kesepakatan ini, diharapkan Pulau Adonara kembali menjadi rumah bersama yang harmonis bagi seluruh warganya, sekaligus menjadi pembelajaran penting mengenai penyelesaian konflik berbasis kearifan lokal. (Ant/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |