Membangun Kota, Merawat Tradisi

8 hours ago 1
Membangun Kota, Merawat Tradisi Wesly Silalahi, Wali Kota Pematangsiantar(Dok.Pribadi)

MEMBANGUN sebuah kota tidak hanya berbicara tentang pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, maupun peningkatan pelayanan publik. Lebih dari itu, pembangunan sejatinya adalah tentang menyiapkan sumber daya manusia. Sebab, kualitas sebuah daerah pada masa depan sangat ditentukan oleh bagaimana kita membangun generasi hari ini.

Dalam konteks itulah, perhatian terhadap anak menjadi fondasi yang tidak dapat diabaikan. Anak adalah investasi terbesar sebuah bangsa. Mereka bukan hanya penerus pembangunan, tetapi juga kinerja (performance) Indonesia di masa mendatang. Karena itu, Pemerintah Kota Pematangsiantar menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas utama melalui berbagai program yang menyentuh pendidikan, kesehatan, karakter, hingga penguatan peran keluarga.

Dalam perjalanan membangun kualitas sumber daya manusia, kolaborasi adalah kunci. Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk dunia pendidikan, komunitas, masyarakat, dunia usaha, media massa, serta lembaga sosial yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan generasi.

Kolaborasi program yang dapat berdampak luas bagi pembangunan sumber daya manusia berfokus pada sektor pendidikan dan kesehatan. Kedua hal ini memerlukan pendekatan sistemik, lintas sektor, dan berorientasi jangka panjang, sebagai bagian dari langkah nyata mewujudkan visi misi Kota Pematangsiantar, yaitu Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras.

Menerapkan Pendekatan Lintas Sektor (Cross-Sector Partnership)

Pembangunan manusia tidak bisa diselesaikan oleh satu institusi saja. Kolaborasi harus melibatkan pemerintah, swasta/filantropi, akademisi, media, dan komunitas masyarakat (Pentahelix). Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator menyediakan regulasi, kebijakan penunjang, serta pendanaan dasar. Kita dapat menggandeng sektor swasta/filantropi dan komunitas sebagai inisiator yang memiliki akses terhadap sumber daya, efisiensi operasional, teknologi, serta program sosial berorientasi pada dampak.

Melalui kolaborasi tersebut, fokus pada konvergensi pendidikan dan kesehatan secara bersamaan terbukti mampu menghasilkan dampak ganda yang signifikan. Berangkat dari salah satu persoalan mendasar, yakni rendahnya indeks literasi dan numerasi masyarakat Kota Pematangsiantar, pemerintah bersama swasta mengembangkan program kolaboratif untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi sebagai fondasi utama dalam membangun kualitas pendidikan.

Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan seseorang memahami informasi, berpikir kritis, mengambil keputusan, dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Begitu pula numerasi, yang menjadi kemampuan dasar dalam memecahkan persoalan kehidupan sehari-hari.

Berbagai program kolaborasi Pemerintah Kota Pematangsiantar bersama lembaga filantropi, Tanoto Foundation, bersama mengangkat perubahan dalam peningkatan kualitas pendidikan dan pengasuhan serta stimulasi anak usia dini melalui penguatan kapasitas tenaga pendidik. 

Guru-guru terbaik dikirim untuk mendapatkan pelatihan dan pengembangan kompetensi agar mampu menjadi penggerak perubahan di sekolah masing-masing. Kami menciptakan agen perubahan yang berasal dari guru dan kepala sekolah yang telah mampu menjadi fasilitator daerah dalam peningkatan kualitas guru lainnya, sehingga pendekatan belajar dari teman sebaya dan seprofesi akan jauh lebih mudah dan berdampak luas bagi kemajuan pendidikan dasar di Kota Pematangsiantar.

Dari proses kolaborasi lahir berbagai komitmen yang lebih kuat melalui penerbitan Peraturan Wali Kota tentang Gerakan Literasi. Regulasi ini menjadi payung hukum agar gerakan literasi tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, sekolah, komunitas, dan masyarakat.

Kehadiran regulasi tersebut memberikan ruang yang lebih luas bagi tumbuhnya berbagai aktivitas literasi dan numerasi di Kota Pematangsiantar. Pemerintah tidak lagi hanya menjadi pelaksana, tetapi mulai mengambil peran sebagai fasilitator.

Hasilnya dapat kita lihat bersama. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Kota Pematangsiantar pada tahun 2025 lalu menjadi yang tertinggi di Sumatra Utara. Peningkatan signifikan ini sebelumnya berada pada kategori rendah, angka tersebut meningkat hingga mencapai kategori sangat tinggi. Capaian ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah bukti bahwa ketika pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan bergerak bersama, perubahan dapat terjadi.

Yang lebih membanggakan, gerakan literasi kemudian mulai tumbuh menjadi gerakan masyarakat. Berbagai komunitas, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan mulai mengambil peran. Pemerintah Kota tidak lagi menjadi satu-satunya pihak yang menjadi inisiator kegiatan, tetapi hadir sebagai pendukung dan fasilitator.

Bagi saya, inilah ukuran keberhasilan sebuah program pemerintah. Ketika masyarakat sudah memiliki kesadaran dan kemampuan untuk bergerak sendiri, maka program tersebut telah memiliki akar yang kuat.

Dalam menjaga keberlanjutan, dibutuhkan program yang dapat menyentuh persoalan paling mendasar yakni menjaga fondasi paling krusial dalam pembangunan manusia, peran langsung dalam menjaga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) karena periode ini membutuhkan intervensi gizi, kesehatan, dan pengasuhan yang intensif. Jika 1.000 HPK gagal dijaga, dampaknya pada kesehatan dan kemampuan belajar anak akan bersifat permanen.

Perhatian pada isu pengasuhan anak usia sejak dini dapat mendeteksi potensi terjadinya stunting pada pertumbuhan anak. Sebagaimana hasil survei Status Gizi Indonesia Tahun 2024, dinyatakan prevalensi stunting di Kota Pematangsiantar berada pada angka 12,2 persen. Kota Pematangsiantar berada di posisi terendah ketiga atau terbaik ketiga dari 33 kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Sumatra Utara. 

Dengan hasil tersebut, semua pihak tidak boleh lengah. Kita harus mengupayakan bagaimana penurunan angka stunting di Kota Pematangsiantar tetap menjadi perhatian kita bersama.

Lingkungan Keluarga adalah Fondasi Pengasuhan (Health Literacy)

Lingkungan keluarga merupakan garda terdepan dan fondasi utama dalam pengasuhan serta pembentukan karakter anak. Sebelum anak mengenal dunia luar seperti sekolah atau masyarakat, keluarga khususnya orang tua adalah lingkungan sosial pertama tempat anak belajar, tumbuh, dan berkembang. 

Jika sebelumnya perhatian kita banyak tertuju pada peningkatan kemampuan belajar anak di sekolah, kini kita menyadari bahwa pendidikan anak tidak dapat dilepaskan dari lingkungan keluarga. Anak pertama kali belajar dari rumah; orang tua, khususnya ibu, memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan masa depan anak.

Melalui pendekatan pengasuhan dan stimulasi anak, dibutuhkan juga peningkatan pemahaman orang tua tentang pola asuh yang baik. Di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat, tantangan pengasuhan semakin besar. Banyak orang tua saat ini menggunakan perangkat digital sebagai solusi praktis dalam menenangkan anak. Teknologi memang memberikan manfaat, tetapi harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan menggantikan peran orang tua.

Hubungan emosional antara anak dan orang tua tidak dapat digantikan oleh teknologi. Sentuhan, komunikasi, perhatian, dan nilai-nilai moral dasar yang diberikan orang tua merupakan fondasi utama pembentukan karakter anak.

Salah satu bentuk nyata implementasi program pengasuhan adalah dengan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi identitas Kota Pematangsiantar sebagai bagian dari budaya Simalungun. 

Pemerintah bersama Tanoto Foundation dalam peringatan Hari Anak Nasional Kota Pematangsiantar ke-42 tahun 2026 dengan tema "Merawat Tradisi Simalungun, Mengasuh Sepenuh Hati" menyelenggarakan Festival Doding Urdouw-urdouw, yakni nyanyian pengantar tidur anak dalam budaya Simalungun.

Tradisi ini bukan hanya tentang lagu, tetapi memiliki pesan moral dan kasih sayang antara orang tua dan anak. Dahulu, melalui nyanyian sederhana tersebut, orang tua menyampaikan doa, harapan, dan nilai kehidupan kepada anak-anaknya. Ada pesan tentang menjadi manusia yang baik, berguna bagi keluarga, masyarakat, dan negara.

Nilai inilah yang ingin kita hidupkan kembali dalam pendekatan modern. Kita tidak menolak perkembangan zaman, tetapi kita ingin memastikan kemajuan teknologi berjalan bersama nilai budaya dan karakter. Karena itu, program pengasuhan anak juga kita integrasikan dengan aspek kesehatan. Anak-anak dan orang tua perlu mendapatkan edukasi mengenai kesehatan, pemenuhan gizi, pencegahan stunting, serta pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak.

Keberhasilan program ini tidak dapat hanya diukur dari terselenggaranya sebuah kegiatan. Kegiatan hari ini hanya akan menghasilkan output. Yang lebih penting adalah outcome dan dampaknya bagi masyarakat. Apakah prevalensi stunting menurun? Apakah Indeks Pengasuhan Anak semakin baik? Apakah Indeks Pembangunan Manusia semakin meningkat? Apakah generasi muda tumbuh dengan karakter yang kuat? Itulah indikator kunci keberhasilan yang sesungguhnya.

Saya percaya, kolaborasi dengan berbagai pihak bukan hanya tentang menjalankan sebuah program, tetapi tentang membangun ekosistem perubahan. Pemerintah, masyarakat adat, komunitas, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, media, dan keluarga harus berjalan selaras ke arah yang sama.

Ke depan, kita berharap gerakan-gerakan ini dapat terus berkembang menjadi bagian dari kebijakan daerah yang berkelanjutan. Apa yang hari ini telah kita mulai akan menjadi momentum pola pengasuhan anak berbasis kearifan lokal yang akan menjadi ciri khas Kota Pematangsiantar dalam rangka mendukung Indonesia Emas 2045. Kita berharap masyarakat bukan hanya menjadi objek program pembangunan, tetapi menjadi inisiator dan penggerak utama. Ke depannya Pemerintah akan hadir untuk menjadi fasilitator, memberikan ruang, dan memastikan setiap potensi dan kreativitas masyarakat dapat lebih berkembang.

Pada akhirnya, membangun kota adalah membangun manusia. Dan membangun manusia harus dimulai sejak dini. Karena di dalam diri anak-anak hari ini, akan lahir pemimpin, inovator, dan generasi yang menentukan masa depan Pematangsiantar dan Indonesia.

Kolaborasi adalah jalan kita. Pendidikan adalah fondasi kita. Dan anak adalah alasan terbesar kita untuk terus bergerak maju dan unggul di masa depan. (*)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |