Ilustrasi(Doc NASA)
MATAHARI yang biasanya mendominasi langit dapat tertutup sepenuhnya oleh Bulan, membuat wilayah di bawah bayangannya berubah gelap seperti fajar atau senja.
Inilah gerhana Matahari total, ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi. Jika cuaca cerah, momen singkat ini juga membuka pemandangan yang biasanya tersembunyi: korona, atmosfer luar Matahari yang baru terlihat ketika permukaannya tertutup sempurna.
Pita bayangan saat fenomena Gerhana matahari
Satu hingga dua menit sebelum gerhana Matahari total mencapai fase totalitas, fenomena berupa pita gelap dan terang dapat muncul di permukaan berwarna putih atau terang.
NASA menyebutnya shadow bands, yaitu pola cahaya yang bergerak cepat dan tampak seperti gelombang. Fenomena serupa dapat muncul kembali setelah totalitas berakhir, tetapi sifatnya sangat samar sehingga tidak selalu mudah diamati atau direkam.
Pita ini bukan bayangan Bulan yang bergerak di permukaan Bumi. Saat Bulan hampir sepenuhnya menutupi Matahari, sumber cahaya yang tersisa berbentuk sabit sangat tipis. Cahaya dari sabit tersebut kemudian melewati atmosfer Bumi yang memiliki sel-sel udara turbulen.
Gangguan atmosfer itu mendistorsi cahaya dan menghasilkan pola terang-gelap yang bergerak di permukaan, mirip dengan efek atmosfer yang membuat cahaya bintang tampak berkelap-kelip.
Karena pola tersebut berasal dari cahaya Matahari yang sangat tipis dan kondisi atmosfer yang berubah-ubah, bentuk serta kecepatannya dapat berbeda dari satu lokasi ke lokasi lain.
Pita biasanya lebih mudah terlihat pada permukaan terang, seperti dinding putih, tanah, atau kain. NASA juga mencatat bahwa fenomena ini dapat sangat samar dan sulit difoto.
Kenapa pita bayang terjadi dan apa dampaknya?
Kemunculan pita bayangan sangat bergantung pada kondisi atmosfer saat gerhana berlangsung. Turbulensi atmosfer dapat mengubah atau mendistorsi jalannya cahaya dari
Matahari yang berbentuk sabit mengalami pemusatan dan penyebaran secara bergantian. Karena gerakan udara berbeda pada setiap lokasi dan setiap gerhana, arah, kecepatan, serta intensitas pita bayangan sulit diprediksi.
NASA bahkan mencatat bahwa fenomena ini belum sepenuhnya dipahami dan tidak selalu muncul pada setiap gerhana.
Pita bayangan biasanya hanya berlangsung sangat singkat, sehingga dampaknya bukan berupa bahaya bagi manusia, melainkan perubahan visual yang menandai semakin dekatnya totalitas.
Setelah fenomena ini, pengamat dapat melihat rangkaian peristiwa lain. Sinar Matahari yang melewati lembah-lembah pada tepi Bulan menghasilkan Baily’s Beads, sebelum akhirnya hanya menyisakan satu titik cahaya yang membentuk cincin berlian bersama korona Matahari
Ketika cincin berlian menghilang, totalitas dimulai dan permukaan Matahari yang terang tertutup sepenuhnya. Sebaliknya, ketika cahaya Matahari mulai muncul kembali di akhir totalitas, Baily’s Beads, cincin berlian, dan pita bayangan dapat terlihat lagi dalam urutan berlawanan.
Sumber: NASA, arXiv

















































