Merdeka Bukan Diskonan: Menggugat Amnesia Sejarah RI dan Utang Kehormatan Kepada Palestina

1 day ago 1
 Menggugat Amnesia Sejarah RI dan Utang Kehormatan Kepada Palestina Mohsen Hasan: Dewan Pakar DPP Partai NasDem, Pemerhati Sosial, Politik, Budaya, Pendidikan & Isu Global, Direktur Studi Islam dan Ilmu Filsafat.(Dok. Pribadi)

SETIAP kali Agustus tiba, langit negeri ini riuh oleh kepakan bendera, lomba seremonial, dan pidato formalitas pejabat yang diulang seperti kaset rusak. Kita merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia seolah-olah kedaulatan ini adalah warisan diskonan tanpa biaya yang jatuh gratis dari langit, atau sekadar hasil akhir dari selembar kain proklamasi dan beberapa bilah bambu runcing yang diikat pita merah putih.

Kenyataan sejarah sesungguhnya jauh lebih getir, rumit, dan berdarah. Kemerdekaan itu mahal —terlalu mahal untuk sekadar dirayakan dengan hura-hura dangkal tanpa makna. Namun yang lebih menyedihkan hari ini, di usia Republik yang membubung ke-81 tahun, banyak anak bangsa yang dihinggapi amnesia sejarah akut. Kita bertindak seolah lupa bahwa saat proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945, kas negara berada di angka nol besar, diplomasi terkunci rapat, dan militer kolonial terkepung blokade ketat.

Jika bukan karena jaringan tangan-tangan ikhlas dari Timur Tengah —khususnya dari tanah Palestina— Republik ini mungkin sudah mati muda sebelum sempat merangkak belajar berdiri.

Tiga Tinta Emas Palestina saat Indonesia Sekarat

Ketika para diplomat awal Indonesia terlunta-lunta di luar negeri tanpa bekal memadai dan tanpa kepastian ongkos bergerak, sejarah mencatat pengorbanan rakyat Palestina yang tidak boleh dihapus oleh erosi waktu maupun pragmatisme politik zaman modern:

  • Ketulusan Tanpa Kuitansi Muhammad Ali Taher: Seorang saudagar kaya asal Palestina yang tanpa ragu mencairkan seluruh uang tabungannya di bank untuk diserahkan bulat-bulat kepada diplomat Indonesia. Tanpa kuitansi, tanpa syarat, dan tanpa mengharapkan dividen politik. Sebuah ketulusan tertinggi dari saudara kandung yang rela jatuh miskin untuk lahirnya Indonesia.
  • Ketegasan Politis Sheikh Amin Al-Husaini: Mufti Agung Palestina yang menggunakan seluruh wibawa politik dan spiritualnya sejak September 1944 untuk menggalang opini publik global. Ia mendesak dan memaksa dunia Arab menoleh serta mengakui bahwa ada sebuah bangsa besar bernama Indonesia yang sedang memperjuangkan hak lahirnya di Asia Tenggara.
  • Militansi Mahasiswa & Santri Al-Azhar Kairo: Pemuda sipil dan mahasiswa asal Nusantara bersama rekan-rekan Arab yang beraksi menjadi "diplomat tidak resmi". Mereka bergerak dari pintu ke pintu, menembus birokrasi kaku, dan menggebrak nurani para penguasa Arab dengan modal kecerdasan, keberanian, dan ikatan akidah yang kokoh.

Merekalah yang memicu efek domino diplomasi hingga Mesir, Suriah, dan Arab Saudi bergiliran memberikan pengakuan de jure bagi kedaulatan kita. Merekalah yang menyuntikkan modal awal eksistensial saat bangsa ini tidak memiliki apa-apa selain nekat dan doa.

Kekufuran Nikmat Sejarah & Utang Moral Bangsa

Melupakan narasi heroik ini dalam perayaan kemerdekaan ke-81 adalah wujud nyata dari kekufuran nikmat sejarah. Sungguh sebuah ironi yang menyayat nurani: bangsa yang dulu hartanya ludes dan tenaganya habis untuk membidani kemerdekaan Indonesia, justru tanah airnya sendiri —Palestina— hari ini masih dijajah, ditindas, dan menghadapi genosida sistematis di depan mata dunia yang membisu.

Mendukung kemerdekaan Palestina bagi Indonesia bukanlah sekadar aksi solidaritas musiman, bukan tren diplomasi luar negeri, dan jauh melampaui urusan sentimen agama belaka. Ini adalah utang kehormatan yang belum lunas, amanat sakral Pembukaan UUD 1945 yang memaktubkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, serta komitmen moral eksistensial yang tidak boleh ditukar dengan investasi, perdagangan, atau pragmatisme ekonomi sekejap.

Sebagaimana yang pernah ditegaskan dengan lantang oleh Sang Proklamator: "Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel." —Presiden Soekarno 1962.

Menatap HUT Ke-81 RI dengan Nurani Waras

Peringatan kemerdekaan tahun ini harus segera dibersihkan dari hura-hura tanpa arah. Generasi hari ini harus disadarkan bahwa kenyamanan hidup dan pembangunan pesat yang mereka nikmati sekarang dibayar oleh darah para pahlawan dan ketulusan para penolong luar negeri di masa-masa paling kritis.

Jasa para tokoh Palestina dan perintis diplomasi awal harus dihidupkan kembali secara terstruktur dalam kurikulum sejarah nasional, ruang-ruang kelas, dan diskursus publik. Ingatan kolektif ini bukan sekadar nostalgia, melainkan bahan bakar moral bagi kompas politik luar negeri Indonesia. Bangsa yang besar tidak akan pernah mengkhianati penolong yang menyelamatkannya di masa lampau saat ia tidak berdaya.

Di usia ke-81 ini, Indonesia tidak boleh menjadi penonton pasif. Kita harus tetap berdiri di garis paling depan, bersuara paling lantang, dan bertindak paling tegas hingga bumi Palestina mendapatkan kemerdekaan hakikinya. (H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |