Pesawat WB-57 di Lapangan Udara Ellington di luar Houston, Texas.(James Blair/Nasa/JSC)
FENOMENA Gerhana Matahari Total yang melintasi wilayah Islandia menjadi momen sangat krusial bagi Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Dalam peristiwa astronomi yang langka ini, tim ilmuwan NASA bersiap meluncurkan misi pengamatan lapangan khusus guna memecahkan salah satu teka-teki paling mendasar dalam fisika matahari: mengapa atmosfer luar Matahari (korona) jauh lebih panas daripada permukaan utamanya?
Selama fase gerhana total berlangsung, piringan Bulan akan menutupi cahaya terang dari permukaan Matahari secara sempurna. Kondisi kegelapan sementara ini menciptakan kesempatan emas yang sangat langka bagi para peneliti untuk mengamati lapisan korona yang biasanya terhalang oleh silau sinar Matahari, baik oleh mata telanjang maupun teleskop biasa.
Dalam misi pengamatan di Islandia tersebut, fokus utama para ilmuwan tertuju pada fenomena yang dikenal sebagai nanoflare. Nanoflare merupakan ledakan energi berskala sangat kecil yang terjadi secara terus-menerus di atmosfer Matahari.
Meskipun ukurannya tergolong jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan ledakan matahari skala besar (solar flare). Jutaan nanoflare yang meletup secara konstan dan simultan diyakini menyemburkan pasokan energi raksasa yang mampu memanaskan korona hingga mencapai jutaan derajat Celsius.
Guna mendeteksi dan merekam aktivitas nanoflare ini, NASA mengerahkan seperangkat instrumen pengamatan canggih di lokasi strategis di Islandia. Alat-alat khusus tersebut dirancang untuk mengukur radiasi ultraviolet serta pemancaran sinar-X dari wilayah korona selama beberapa menit singkat ketika bayangan Bulan menutup permukaan Matahari secara penuh.
Misteri perbedaan suhu ini telah membingungkan komunitas ilmuwan selama puluhan tahun. Suhu korona Matahari diketahui mampu mencapai lebih dari satu juta derajat Celsius, sedangkan suhu di permukaan utamanya hanya berkisar 5.500 derajat Celsius. Memahami mekanisme pemanasan korona tidak hanya bernilai bagi ilmu astronomi murni, tetapi juga berdampak nyata pada kehidupan di Bumi. Aktivitas di lapisan korona merupakan pemicu utama terciptanya angin matahari (solar wind) serta badai geomagnetik yang berpotensi mengganggu operasional satelit komunikasi, sistem navigasi GPS, hingga stabilitas jaringan listrik global.
Kumpulan data dan citra beresolusi tinggi yang dihimpun selama momen gerhana di Islandia diharapkan dapat memberikan bukti empiris mengenai peran nanoflare dalam proses transfer energi Matahari. Hasil riset ini nantinya akan digunakan ilmuwan untuk menyempurnakan pemodelan cuaca antariksa guna mengantisipasi dampak buruk radiasi Matahari di masa mendatang. (The Guardian/Z-2)

















































