Masjid Dome of the Rock (kubah batu) di area Masjidil Aqsa, kawasan Kota Tua Yerusalem (Al-Quds), Jumat (13/2/2026).(ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
MENTERI Pariwisata dan Kepurbakalaan Palestina, Hani Al-Hayek, menekankan pentingnya upaya nasional untuk mengawasi dan melindungi situs-situs arkeologi serta sejarah di Palestina. Fokus utama perlindungan ini diarahkan pada objek-objek yang terancam langsung oleh pendudukan Israel dan teror pemukim zionis.
Pernyataan tersebut disampaikan Al-Hayek pada Sabtu (8/8), saat meninjau sejumlah situs bersejarah di Kegubernuran Hebron, tepatnya di Kota Al-Karmel, Yatta, dan Beit 'Amra. Dalam kunjungan tersebut, ia mempelajari kondisi serta kebutuhan mendesak di situs Qasr Al-Karmil, Qisarya, Khirbet Umm Al-Amad, dan Khirbet Beit 'Amra.
Al-Hayek membahas langkah-langkah strategis untuk menjaga dan mengembangkan aset arkeologis tersebut. Ia menegaskan bahwa situs-situs ini harus segera ditampilkan dalam peta pariwisata Palestina guna memperkuat statusnya sekaligus melindunginya dari berbagai ancaman eksternal.
Menurut Al-Hayek, kekayaan arkeologi yang dimiliki Palestina merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah dan identitas nasional. Oleh karena itu, kementerian berkomitmen untuk menjalin kemitraan dengan otoritas lokal dan tokoh masyarakat guna mengoptimalkan sumber daya yang ada dalam melindungi situs tersebut.
Selain aspek perlindungan, pihak kementerian juga berencana melakukan rehabilitasi agar situs-situs tersebut menjadi tujuan wisata yang ramah pengunjung. Langkah ini diharapkan dapat menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.
Al-Hayek optimistis bahwa menghidupkan kembali situs arkeologi sebagai destinasi wisata tidak hanya memicu pertumbuhan ekonomi lokal, tetapi juga memperkuat kehadiran masyarakat setempat. Kehadiran fisik warga di sekitar situs dianggap sebagai benteng pertahanan alami dalam menjaga warisan sejarah nasional Palestina. (WAFA/Ant/I-1)

















































