Pemerintah Serahkan Penyelidikan Karhutla Bromo ke Penegak Hukum

2 days ago 17
Pemerintah Serahkan Penyelidikan Karhutla Bromo ke Penegak Hukum Savana di Gunung Bromo, Jawa Timur, Minggu (9/8/2026) nampak berwarna hitam seusai meluasnya titik api, pada Sabtu (8/8/2026).(Antara)

MENTERI Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan bahwa proses penyelidikan terkait penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, sepenuhnya diserahkan kepada aparat penegak hukum. Langkah ini diambil untuk memastikan adanya tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang terbukti memicu kebakaran, baik secara sengaja maupun akibat kelalaian.

"(Penyelidikan) kami serahkan kepada penegak hukum," ujar Menhut Raja Juli saat memberikan keterangan pers di kawasan Gunung Bromo, Minggu (9/8). Ia menekankan bahwa siapa pun yang terbukti melakukan pembakaran hutan dan lahan akan mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai peraturan yang berlaku.

Berdasarkan laporan awal dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada Jumat (7/8), penyebab kebakaran diduga kuat berasal dari aktivitas manusia. Titik awal api terdeteksi di area Blok Bantengan, yang merupakan lokasi jalur tradisional atau jalan tembusan penghubung antara Desa Arjosari dengan Ranu Pani.

Pihak TNBTS mengidentifikasi adanya kemungkinan aktivitas pembuatan perapian oleh oknum tertentu untuk menghalau cuaca dingin, namun api tidak dipadamkan dengan sempurna sebelum ditinggalkan. Kondisi ini diperparah oleh fenomena El Nino yang membuat musim kemarau tahun ini menjadi jauh lebih kering dan vegetasi mudah terbakar.

Indikator Data Keterangan
Total Luas Terdampak 520 Hektare
Lokasi Awal Api Blok Bantengan (Jalur Arjosari - Ranu Pani)
Pemicu Utama Dugaan aktivitas manusia & perapian
Faktor Alam El Nino, Angin Kencang, dan Fenomena Frost

Upaya Pemadaman dan Peninjauan Lapangan

Dalam kunjungan kerjanya, Menhut Raja Juli Antoni meninjau langsung proses pemadaman api menggunakan helikopter water bombing (pengebom air) di wilayah Kabupaten Probolinggo. Menhut didampingi oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak serta jajaran pejabat daerah setempat.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menambahkan bahwa luas area terdampak kini mencapai 520 hektare, meningkat signifikan dari data sebelumnya yang berada di angka 176 hektare. Lonjakan ini terjadi setelah api kembali berkobar pada Sabtu (8/8) malam akibat hembusan angin kencang yang membawa api menyeberangi Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) menuju area savana.

Pemerintah mengimbau keras kepada seluruh masyarakat dan wisatawan untuk tidak bermain api atau melakukan aktivitas yang memicu percikan api di dalam kawasan hutan, mengingat kondisi vegetasi yang sangat kering akibat dampak frost dan kemarau ekstrem. (Ant/I-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |