ilustrasi(China Media Group)
PERSAINGAN eksplorasi ruang angkasa antara Amerika Serikat dan Tiongkok kini memasuki babak baru yang semakin memanas. Wilayah kutub selatan Bulan menjadi medan pertempuran utama bagi kedua negara adidaya tersebut dalam memperebutkan kendali atas kosmos.
Fokus kedua negara tertuju pada kutub selatan Bulan karena para ilmuwan meyakini kawasan tersebut menyimpan cadangan es air. Sumber daya penting ini dapat diolah menjadi bahan bakar roket, udara untuk bernapas, hingga air minum guna menunjang keberlangsungan pemukiman manusia di luar bumi kelak.
Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok menunjukkan kemajuan pesat dalam teknologi antariksa. Negara tersebut berhasil meluncurkan stasiun ruang angkasa Tiangong serta menjadi negara pertama yang membawa sampel tanah dari sisi jauh Bulan. Selain itu, Tiongkok mematok target ambisius untuk membangun pemukiman permanen di Bulan pada tahun 2040.
Ambisi besar tersebut didorong langsung oleh Pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, yang menempatkan pembangunan kekuatan antariksa sebagai bagian dari revitalisasi nasional. "Laju eksplorasi ruang angkasa manusia tidak ada habisnya. Langkah demi langkah, Anda akan memulai perjalanan eksplorasi antarbintang yang baru, memberikan kontribusi baru untuk membangun negara kedirgantaraan yang kuat dan mewujudkan revitalisasi besar Tiongkok," ujar Xi dalam pidatonya pada 2020.
Kemajuan cepat dan sifat program luar angkasa Tiongkok yang tertutup memicu kekhawatiran mendalam bagi para pembuat kebijakan serta pejabat di Capitol Hill. Mantan Administrator NASA, Jim Bridenstine, mengakui rekam jejak kedisiplinan Tiongkok dalam mencapai target-targetnya. "Tapi apa yang kita tahu adalah ketika mereka menetapkan target bagi diri mereka sendiri, mereka mencapainya," ujar Bridenstine.
Merespons gertakan tersebut, Amerika Serikat terpacu untuk mempercepat program antariksanya demi membangun pangkalan Bulan milik sendiri. Dalam strateginya, AS sangat mengandalkan sektor swasta untuk mengembangkan wahana pendarat robotik berbiaya rendah. Salah satunya adalah rencana pengiriman wahana pendarat Griffin, yang dikembangkan oleh perusahaan Astrobotic Technology asal Pittsburgh, ke kutub selatan Bulan pada akhir tahun 2026.
Misi tersebut bertujuan menguji performa dan ketahanan teknologi di medan kutub selatan yang dikenal sangat ekstrem dan berbahaya. Dengan sedikitnya hukum internasional yang mengatur kawasan tersebut, persaingan sengit antara AS dan Tiongkok di kutub selatan Bulan diprediksi akan menjadi titik balik penting dalam sejarah eksplorasi antariksa global. (CNN/Z-2)

















































