Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tertolong Konsumsi Domestik

10 hours ago 3
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tertolong Konsumsi Domestik ilustrasi(Antara)

Permata Institute for Economic Research (PIER) menilai ekonomi Indonesia perlu semakin mengandalkan kekuatan domestik, terutama konsumsi masyarakat, guna menghadapi meningkatnya tekanan terhadap perekonomian global. Strategi ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pertumbuhan nasional.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melambat pada tahun ini. Meski demikian, ekonomi Indonesia dipandang masih cukup resilien berkat basis permintaan domestik yang solid.

"Kalau lembaga-lembaga dunia mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tetap resilien, artinya ini cukup banyak ditopang oleh ekonomi domestik,” ujar Josua dalam pemaparan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 (2Q26) secara daring di Jakarta, Senin (11/8).

Pergeseran Dinamika Pertumbuhan Kuartal II 2026

PIER mencatat adanya pergeseran dinamika pada mesin pertumbuhan ekonomi selama kuartal II 2026. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor utama, walaupun mengalami normalisasi pascaperayaan Lebaran.

Data menunjukkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga berada di level 5,06% secara year-on-year (YoY), sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,52% YoY. Di sisi lain, sektor investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menunjukkan performa positif dengan akselerasi pertumbuhan dari 5,96 persen YoY menjadi 6,87 persen YoY.

Meski investasi meningkat, Josua menegaskan bahwa kenaikan tersebut belum mampu menggantikan posisi konsumsi rumah tangga sebagai motor penggerak utama ekonomi nasional. Oleh karena itu, penguatan daya beli masyarakat menjadi kunci utama saat permintaan dari pasar eksternal mulai tertekan.

Tantangan Eksternal dan Ekspansi Manufaktur

Saat ini, Indonesia masih berada dalam fase pemulihan (recovering) dengan indeks PMI manufaktur yang konsisten di atas level 50. Angka ini mengindikasikan bahwa aktivitas industri nasional masih berada dalam zona ekspansi, meski tantangan ke depan tetap harus diwaspadai.

Beberapa faktor eksternal yang berpotensi membatasi dukungan pasar ekspor meliputi:

  • Perlambatan ekonomi global dan ketegangan geopolitik.
  • Perang dagang yang masih berlanjut.
  • Perlambatan ekonomi Tiongkok sebagai mitra dagang utama Indonesia.

“Dorongan ataupun dukungan dari pasar ekspor dan pasar eksternal memang akan cukup terbatas. Hal ini perlu kita cermati lebih dalam,” tambah Josua.

Dampak Kenaikan Harga Energi

Selain isu perdagangan, kenaikan harga energi sejak Maret 2026 turut menjadi perhatian serius. Lonjakan harga energi global memicu inflasi, terutama bagi negara berkembang yang bergantung pada impor minyak mentah.

Kenaikan biaya energi berdampak langsung pada biaya transportasi dan produksi, yang pada akhirnya mengerek harga barang dan jasa. Jika tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan, kondisi ini berisiko menekan daya beli masyarakat secara signifikan.

Dalam situasi tersebut, PIER menekankan pentingnya peran pemerintah untuk menjaga daya beli sekaligus menciptakan iklim investasi yang kondusif. Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bersandar pada belanja masyarakat, tetapi juga didukung oleh penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan yang berkelanjutan. (Ant/E-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |