Pengendara sepeda motor memakai masker yang dibagikan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Lampung Selatan di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Senin (7/9/2026).(ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung melaporkan sebaran abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) bergerak ke arah barat laut dan mencapai sebagian wilayah Teluk Lampung.
Kepala BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi, menjelaskan bahwa paparan abu vulkanik tersebut terdeteksi dari pemantauan citra satelit pada Rabu (9/9) pagi.
"Berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 pada Rabu, pukul 10.00 WIB, teridentifikasi adanya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dari permukaan hingga ketinggian sekitar 7.000 feet atau 2,1 kilometer bergerak ke arah barat laut dan mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung," ujar Aswarodi, Rabu (9/9).
Meskipun intensitas sebaran abu di udara dilaporkan mulai berangsur berkurang, status Gunung Anak Krakatau saat ini masih bertahan pada Status Level III (Siaga).
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api, tercatat serangkaian aktivitas kegempaan sepanjang Rabu (9/9):
- Erupsi Dini Hari (00.47 WIB): Terjadi satu kali erupsi yang tidak teramati secara visual, namun terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi 28 detik.
- Periode Pengamatan Pagi (06.00–12.00 WIB): Tidak tercatat adanya letusan susulan. Namun, terekam 2 kali gempa frekuensi rendah (amplitudo 13–17 mm, durasi 5–8 detik), 1 kali gempa vulkanik dangkal (amplitudo 23 mm, durasi 10 detik), serta 1 kali gempa tremor menerus (amplitudo 1–5 mm, dominan 2 mm).
Mengingat pergerakan abu sangat bergantung pada arah angin, BPBD Provinsi Lampung mengimbau masyarakat di pesisir Teluk Lampung untuk senantiasa mewaspadai paparan abu vulkanik saat beraktivitas di luar rumah.
Petugas gabungan terus memperketat pengawasan karena perubahan morfologi tubuh gunung api di Selat Sunda tersebut masih terus berlangsung.
"Abu ini mengikuti dari arah angin, jadi masyarakat diminta untuk tetap menggunakan masker apabila beraktivitas di luar ruangan terutama saat terjadi paparan abu vulkanik. Meskipun intensitas aktivitas mulai menurun, pemantauan tetap dilakukan karena aktivitas vulkanik belum berhenti dan perubahan morfologi gunung masih perlu diperhatikan," pungkas Aswarodi.
(Ant/P-4)
















































