Houthi.(Al Jazeera)
KELOMPOK Houthi yang didukung Iran meluncurkan serangan besar-besaran ke wilayah barat daya Arab Saudi pada Selasa (8/9) dini har
i. Serangan yang menargetkan infrastruktur minyak dan fasilitas sipil ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik regional serta memberikan tekanan tambahan pada harga minyak mentah dunia.
Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan sedikitnya 73 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, terluka akibat serangan tersebut. Juru bicara Pasukan Koalisi, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, menyebut serangan yang menyasar kota Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran ini sebagai tindakan yang berbahaya dan tidak masuk akal.
Dampak terhadap Pasar Energi Global
Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menyebabkan kebakaran di beberapa fasilitas di wilayah selatan. Peristiwa ini memaksa penghentian sementara sejumlah operasional.
Dampaknya langsung terasa di pasar global. Harga minyak mentah Brent melonjak di atas US$100 per barel pada Rabu (9/9), level tertinggi sejak Juli lalu.
Para pelaku pasar khawatir serangan ini akan mengganggu ekspor minyak mentah Arab Saudi melalui Laut Merah. Saat ini, Riyadh telah mengalihkan sebagian besar pengiriman minyaknya melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah karena penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran.
Respons Houthi dan Rencana Balasan Riyadh
Pihak militer Houthi menyatakan bahwa serangan menggunakan puluhan rudal balistik dan pesawat tak berawak (drone) tersebut merupakan respons atas lebih dari 100 serangan udara Saudi di Yaman dalam tiga hari terakhir. Mereka menegaskan akan terus menerapkan prinsip pengepungan dibalas pengepungan hingga blokade ekonomi terhadap wilayah mereka dicabut.
Di sisi lain, Arab Saudi menegaskan hak kedaulatannya untuk mengambil tindakan balasan. Sumber yang memahami pemikiran pemerintah di Riyadh mengungkapkan kepada CNN bahwa Arab Saudi sedang merencanakan serangan balasan dan berkoordinasi dengan Komando Pusat AS (Centcom) serta mitra di Eropa.
Konteks Regional: Serangan ini menandai berakhirnya gencatan senjata rapuh selama empat tahun antara Houthi dan Arab Saudi yang sempat tercapai pada 2022. Eskalasi ini juga terjadi tak lama setelah kesepakatan gencatan senjata AS-Iran mulai goyah pada Juli lalu.
Kecaman Internasional
Serangan Houthi memicu gelombang kecaman dari sekutu regional Arab Saudi. Mesir menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya. Yordania, Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Turki menyatakan bahwa serangan tersebut melanggar kedaulatan Saudi dan mengabaikan keselamatan warga sipil.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa Washington memantau situasi dengan sangat ketat. Kedutaan Besar AS di Yaman menegaskan bahwa Houthi harus memikul konsekuensi dari agresi mereka, sembari mendukung hak Arab Saudi untuk mempertahankan diri.
Analis dari International Crisis Group, Ali Vaez, menilai Houthi berupaya menguasai wilayah lebih dekat ke Bab al-Mandab, titik transit krusial yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia. Jika berhasil, hal ini akan memberikan keuntungan strategis bagi Iran untuk menekan jalur pelayaran internasional di dua titik sekaligus: Selat Hormuz dan Bab al-Mandab. (CNN/I-2)
















































