Cuplikan serial TV Nabi Yusuf.(Dok Istimewa)
KISAH pertemuan antara Nabi Yakub AS dan putranya, Nabi Yusuf AS (yang dikenal di Mesir dengan nama Yuzarsif), menjadi salah satu momen paling emosional dalam sejarah kenabian. Setelah terpisah selama kurang lebih 40 tahun akibat tipu daya saudara-saudaranya, Nabi Yakub akhirnya melangkahkan kaki menuju Mesir untuk bersatu kembali dengan putra tercintanya.
Berikut sinopsis serial televisi Iran berjudul Nabi Yusuf episode 45 yang menjadi akhir dari cerita. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.
Doa Pengampunan Nabi Yakub di Waktu Subuh
Di tengah perjalanan ke Mesir untuk menemui Yusuf, Nabi Yakub menunjukkan kebesaran hatinya sebagai seorang ayah dan nabi. Meski anak-anaknya telah melakukan kesalahan besar di masa lalu, ia tetap memohonkan ampunan kepada Allah SWT atas dosa-dosa mereka.
Nabi Yakub menyadari bahwa anak-anaknya tertipu oleh godaan setan, tetapi ia melihat kesungguhan mereka dalam bertobat. Dalam doanya, ia memohon:
"Ya Allah, tolong terimalah penyesalan mereka. Meskipun mereka terlambat kembali pada-Mu, mereka sangat sedih dan penuh penyesalan. Kaulah Yang Maha Pengampun, maka ampuni mereka."
Nabi Yakub secara khusus memilih waktu subuh untuk memanjatkan doa tersebut. Ia meyakini bahwa subuh adalah waktu mustajab saat Allah tidak akan menolak permohonan hamba-Nya.
Sebagai seorang ayah, ia mengaku dirinya memaafkan anak-anaknya sejak awal. Namun ia menunggu waktu yang tepat agar permohonan ampunan bagi anak-anaknya diterima oleh Sang Pencipta.
Perjalanan Menuju Mesir dan Sambutan Rakyat
Rombongan Nabi Yakub yang terdiri dari anak-anak, cucu, dan kerabat dari Kanaan, akhirnya tiba di perbatasan Mesir. Kedatangan mereka disambut hangat oleh utusan Yusuf dan pihak keamanan setempat. Kabar mengenai kedatangan keluarga Penyelamat Mesir ini segera sampai ke telinga Firaun Akhenaten dan Nabi Yusuf.
Mendengar kabar bahwa ayahnya akan tiba dalam waktu tiga hari, Nabi Yusuf merasa sangat bahagia dan bersyukur kepada Allah. Firaun pun memerintahkan agar seluruh kota dihiasi dengan meriah dan pasukan disiapkan untuk menyambut kedatangan Nabi Yakub dengan upacara kehormatan.
Rakyat Mesir turut bersukacita. Mereka merasa berutang budi kepada Yuzarsif (Yusuf) yangmenyelamatkan negeri itu dari bencana kelaparan. Bagi mereka, menyambut keluarga Yusuf adalah bentuk terima kasih yang tulus.
Momen Haru di Gerbang Kota
Saat mendekati kota, Nabi Yakub sempat terpukau melihat kemegahan bangunan Mesir, termasuk piramida yang menjadi monumen raksasa di sana. Namun, fokus utamanya tetaplah pada pertemuan dengan Yusuf.
Di perbatasan kota, Rodomon, pengawal setia Yusuf, menyambut rombongan tersebut. Nabi Yakub diminta berdiri di tempat yang tinggi untuk melihat ribuan orang yang berkumpul menyambutnya. Suasana alam pun seolah ikut bereaksi; angin bertiup kencang membawa kabar baik, menandakan berakhirnya masa penantian panjang yang penuh kesedihan.
Pertemuan ini bukan sekadar reuni keluarga, melainkan simbol kemenangan kesabaran dan kekuatan pengampunan. Setelah 40 tahun terpisah oleh kebencian dan jarak, cinta dan iman akhirnya menyatukan mereka kembali di tanah Mesir.
Momen yang dinantikan selama puluhan tahun akhirnya tiba. Suasana haru menyelimuti perbatasan Mesir saat rombongan Nabi Yakub bersiap bertemu dengan putra tercintanya, Yusuf, yang kini menjadi penguasa di negeri tersebut. Ketegangan dan kegembiraan bercampur menjadi satu, menandai berakhirnya masa penantian yang panjang dan penuh air mata.
Kegugupan Menjelang Pertemuan
Sebelum pertemuan terjadi, Nabi Yakub dan istrinya, Lea, tampak sangat emosional. "Semoga dia baik-baik saja. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya saat bertemu Yusuf. Tangannya gemetaran," ungkap salah satu anggota keluarga melihat kondisi sang ayah. Nabi Yakub berusaha menenangkan hatinya yang berdegup kencang, memohon kesabaran di dalam dadanya agar kuat menghadapi momen yang sangat ia rindukan.
Di sisi lain, saudara-saudara Yusuf menyaksikan kedatangan adik mereka dengan penuh keagungan. Mereka menyadari bahwa mimpi Yusuf di masa kecil, saat mereka akan bersujud kepadanya, kini menjadi kenyataan. Yusuf datang dengan kemegahan sebagai pejabat tinggi Mesir, tetapi tetap dengan hati yang penuh kasih.
Pertemuan Penuh Air Mata
Saat Yusuf muncul, seruan Allahu Akbar menggema. Nabi Yakub yang sempat kehilangan penglihatannya karena terus meratapi kepergian Yusuf, kini bisa merasakan kehadiran putranya. Isak tangis bahagia pecah saat keduanya berpelukan. "Yusuf, Yusuf, anakku," seru Yakub dengan suara bergetar.
Para saksi mata menggambarkan momen tersebut sebagai sesuatu yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Yusuf menangis sekaligus tersenyum, pemandangan yang membuat siapa pun yang melihatnya ikut terharu. Kehadiran Nabi Yakub di Mesir juga disambut hangat oleh Firaun, yang menganggap kedatangan sang Nabi sebagai berkah yang akan mengakhiri masa paceklik di negeri tersebut.
Terwujudnya Mimpi Masa Kecil
Salah satu momen paling sakral adalah ketika Nabi Yakub hendak mencium tangan Yusuf, tetapi Yusuf segera mencegahnya. Yusuf menegaskan bahwa ayahnya adalah imam baginya. Dalam suasana penuh syukur tersebut, Nabi Yakub mengajak seluruh keluarganya untuk bersujud kepada Allah SWT.
Momen sujud ini secara langsung mewujudkan mimpi masa kecil Yusuf tentang matahari, bulan, dan sebelas bintang yang bersujud kepadanya. Nabi Yakub mengakui keagungan Allah yang menampakkan sifat-sifat-Nya melalui diri Yusuf yang saleh. "Matahari yang akan bersujud di depanmu sekarang berlutut di hadapanmu. Bulan dan 11 bintang juga akan bersujud di hadapanmu," ujar Yakub mengenang mimpi tersebut.
Pesan tentang Juru Selamat
Di akhir pertemuan, Yusuf menyampaikan rasa syukurnya atas segala nikmat, mulai dari dibebaskan dari penjara hingga dipersatukan kembali dengan keluarganya setelah setan sempat memisahkan mereka. Ia berdoa agar kelak diwafatkan dalam keadaan pasrah dan ditempatkan di antara orang-orang saleh.
Kisah ini ditutup dengan pesan mendalam mengenai masa depan. Disebutkan bahwa di masa depan, akan datang seorang juru selamat yang dijanjikan, yang akan menyelamatkan dunia dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Kisah Nabi Yusuf ini ditegaskan bukan sekadar fiksi, melainkan konfirmasi dari kitab suci yang mengandung panduan dan hikmah bagi orang-orang yang beriman.
Catatan Sejarah: Perpisahan antara Nabi Yakub dan Nabi Yusuf berlangsung selama puluhan tahun. Pertemuan mereka di Mesir menjadi simbol kekuatan sabar, doa, dan pengampunan dalam menghadapi ujian hidup yang berat. (I-2)

















































