Anggota DPR RI Fraksi Golkar Prof. Dr. Eric Hermawan(Dok Istimewa )
ANGGOTA DPR RI Fraksi Golkar Prof. Dr. Eric Hermawan menilai hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang menempatkan Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam tiga besar menteri dengan persepsi kinerja terbaik menjadi sinyal positif terhadap kepercayaan publik kepada pemerintah.
Survei IPO yang dilakukan pada 27 Juli–3 Agustus 2026 terhadap 1.200 responden menggunakan metode stratified multistage random sampling, dengan margin of error ±2,9% pada tingkat kepercayaan 95%. Dalam survei tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berada di posisi pertama dengan penilaian positif 42,8%, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya 33,5%, dan Bahlil Lahadalia 32,0%.
Eric menilai posisi Bahlil cukup menarik karena berada di atas sejumlah menteri yang juga memiliki peran strategis dalam pemerintahan, termasuk Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang memperoleh 30,9% dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono sebesar 25,3%. Menurutnya, Bahlil yang hanya terpaut 1,5 poin persentase dari Teddy menunjukkan resiliensi politik yang kuat, terlebih dirinya berada di sektor yang sangat sensitif dan mendapat perhatian publik tinggi, yakni energi, pertambangan, investasi, dan hilirisasi.
“Pak Bahlil memperoleh 32%, hanya terpaut 1,5 poin dari Pak Teddy. Ini menunjukkan bahwa persepsi publik terhadap kinerja beliau tetap kuat di tengah tingginya sorotan terhadap sektor yang beliau tangani," ujar Eric dikutip dari siaran pers yang diterima, Senin (10/8).
Menurut Eric, terdapat angka yang justru lebih menarik untuk dicermati, yakni tingkat popularitas Bahlil sebesar 32,8% yang hampir sama dengan penilaian positif terhadap kinerjanya sebesar 32,0%.
"Tetapi secara kasar, kedekatan antara angka popularitas dan penilaian positif ini merupakan sinyal yang sangat menarik. Artinya, angka persepsi positif terhadap kinerja Pak Bahlil hampir sebesar tingkat pengenalan publik terhadap beliau," jelasnya.
Eric menilai kondisi tersebut berpotensi menjadi modal positif bagi Bahlil sekaligus memperkuat citra Kementerian ESDM dan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, ketika figur yang berada di sektor strategis seperti energi dan hilirisasi memperoleh persepsi positif, hal tersebut dapat membantu membangun kepercayaan publik terhadap agenda pemerintah, khususnya dalam mendorong investasi, ketahanan energi, pengelolaan sumber daya alam, dan peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi.
“Ini bukan hanya soal personal Pak Bahlil. Persepsi positif terhadap kinerja Menteri ESDM juga dapat memberikan sentimen positif terhadap kementerian yang dipimpinnya, Partai Golkar, dan agenda pemerintahan Presiden Prabowo," sebut Eric.
Eric menambahkan, hasil survei terbaru tersebut juga perlu dilihat dalam konteks tingkat pengenalan Bahlil yang telah terbentuk sebelumnya. Dalam survei IPO pada Oktober 2025, Bahlil tercatat memiliki tingkat popularitas sebesar 38,3% dan menjadi salah satu figur dengan tingkat popularitas tinggi di kabinet. Menurut Eric, hal ini menunjukkan bahwa Bahlil memiliki eksposur publik yang relatif kuat, sehingga tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan popularitas, melainkan mengonversinya menjadi capaian kebijakan yang konkret dan dapat dirasakan masyarakat.
"Karena sektor yang ditangani Pak Bahlil bersifat pro-growth tetapi sekaligus high scrutiny, maka angka 32% harus dibaca sebagai modal sekaligus tantangan. Kebijakan energi, pertambangan, investasi, dan hilirisasi harus mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi tetap menjawab persoalan tata kelola, kepastian investasi, penerimaan negara, lingkungan, serta manfaat bagi masyarakat. Karena itu, persepsi positif yang tercermin dalam survei harus diikuti dengan hasil yang terukur," tegas Eric.
Eric berharap hasil survei IPO menjadi motivasi bagi Bahlil dan jajaran Kementerian ESDM untuk terus meningkatkan kinerja dalam enam hingga dua belas bulan ke depan. (E-4)

















































