Tekan Penularan Tuberkulosis, Pemkot Makassar Gencarkan Tracing di 339 Titik

4 hours ago 1
Tekan Penularan Tuberkulosis, Pemkot Makassar Gencarkan Tracing di 339 Titik Ilustrasi(Dok Istimewa)

PEMERINTAH Kota Makassar resmi menggelar tracing massal Tuberkulosis di 339 titik secara serentak, Selasa (11/8), dengan target pemeriksaan 100 orang per titik. 

Gerakan ini menjadi respons darurat atas rendahnya cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah yang baru mencapai 516 dari target 72.240 orang atau hanya 0,71 persen.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melaunching program yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kantor Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (11/8).

Ia menegaskan bahwa angka kasus TBC di Makassar relatif tinggi dibanding daerah lain sehingga membutuhkan penanganan ekstra dan melibatkan seluruh elemen hingga tingkat RT/RW.

"Gerakan ini bukan sekadar seremonial. Ini tonggak keseriusan pemerintah membasmi Tb. Penyakit ini menular sangat cepat, makanya tracing harus masif," tegas Munafri di hadapan jajaran camat dan lurah.

Kegiatan yang berlangsung dari Agustus hingga November 2026 tersebut menyasar berbagai kawasan padat penduduk. Pemkot menjamin seluruh layanan pemeriksaan mulai dari skrining hingga rontgen gratis tanpa dipungut biaya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Nursaidah Sirajuddin, memaparkan bahwa capaian penemuan terduga Tuberkulosis baru 57,11 persen (27.851 dari 48.763 target), sementara kasus terkonfirmasi baru 61,53 persen (5.556 dari 9.030 target). Angka keberhasilan pengobatan tercatat 82,40 persen, masih di bawah standar nasional 90 persen.

"Namun, masalah paling kritis adalah TPT kontak serumah yang hanya 0,71 persen. Ini yang membutuhkan perhatian serius karena kontak serumah berisiko tinggi terpapar," ujar Nursaidah.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Dinkes akan memperkuat investigasi kontak di seluruh puskesmas dengan melibatkan kader kesehatan, komunitas, klinik, dan rumah sakit. 

Edukasi kepada keluarga pasien juga digencarkan untuk mengatasi penolakan terhadap TPT, serta skrining aktif diperluas ke tempat kerja, lapas, lansia, dan penyandang diabetes melitus serta HIV.

Munafri meminta masyarakat tidak takut atau malu memeriksakan diri. Ia menyebut kemajuan teknologi saat ini memungkinkan pemeriksaan melalui rontgen, tidak lagi terbatas pada pengambilan sampel dahak seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Masyarakat yang bergejala agar segera ke puskesmas. Ini bukan aib, ini bisa disembuhkan. Jangan sembunyikan karena justru akan menulari keluarga sendiri," pungkasnya. (H-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |