Donald Trump.(Al Jazeera)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempersiapkan landasan untuk mendeklarasikan kemenangan dalam konflik dengan Iran. Fokus utama Gedung Putih saat ini ialah memastikan Teheran membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya, bahkan jika itu berarti Trump harus merelakan kesepakatan nuklir yang komprehensif.
Menurut pejabat AS, Trump secara pribadi menyampaikan kepada para pembantu seniornya bahwa ia bersedia mengakhiri konflik tanpa kesepakatan nuklir baru. Namun, upaya untuk mencari jalan keluar yang terhormat ini menjadi semakin sulit setelah Iran mengajukan tuntutan tinggi pada Sabtu (8/8).
Tuntutan Berat Teheran
Iran menetapkan syarat yang sangat berat untuk mengizinkan lalu lintas bebas di Selat Hormuz. Tuntutan tersebut mencakup pembayaran miliaran dolar dari AS, penarikan pasukan Amerika dari kawasan Timur Tengah, pengakhiran blokade angkatan laut, hingga pencairan aset-aset Iran yang dibekukan secara global.
Mohammad Bagher Zolghadr, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menegaskan bahwa AS juga harus membayar reparasi perang dan menghentikan tindakan militer terhadap sekutu milisi Iran di kawasan tersebut sebelum jalur perairan strategis itu dibuka kembali.
"Tuntutan garis keras Iran baru-baru ini membuat presiden semakin sulit untuk membangun jalan keluar dari konflik ini," ujar Mona Yacoubian, Direktur Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Tekanan Domestik dan Harga Bahan Bakar
Keinginan Trump untuk segera mengakhiri konflik tidak lepas dari tekanan domestik. Dengan kurang dari tiga bulan menuju pemilihan paruh waktu, harga bensin di AS masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang dimulai pada Februari lalu. Data AAA menunjukkan rata-rata harga bensin berada di angka US$4,02 per galon pada Sabtu, naik signifikan dari US$3,16 pada tahun lalu.
Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa AS akan terus menekan Iran untuk perubahan jangka panjang, tetapi fokus jangka pendek tetap pada stabilitas energi. "Kami hanya akan terus menerapkan tekanan yang kami bisa dan mendapatkan sebanyak mungkin minyak dan gas dari Timur Tengah agar warga Amerika dapat menikmati harga energi yang lebih rendah," kata Vance kepada Fox News.
Status Program Nuklir dan Opsi Militer
Meskipun kesepakatan nuklir tampaknya dikesampingkan, Trump meyakini bahwa ancaman nuklir Iran telah terkendali. Pejabat Gedung Putih menyebutkan bahwa Trump secara pribadi percaya Teheran tidak akan mampu menghidupkan kembali program nuklirnya dalam waktu dekat setelah AS menghancurkan tiga situs nuklir utama tahun lalu.
Trump juga mengeklaim bahwa kemampuan intelijen AS akan mendeteksi setiap upaya Iran untuk membangun kembali fasilitas tersebut. Namun, ia tetap menegaskan bahwa opsi militer tetap ada di meja jika Iran terus menargetkan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Hambatan Finansial: Salah satu komplikasi utama ialah tuntutan Iran akan uang. Trump telah menegaskan bahwa Gedung Putih tidak akan membiarkan uang pembayar pajak AS mengalir ke Iran, meskipun para analis menilai kesepakatan sulit tercapai tanpa ada pencairan sebagian aset Iran yang dibekukan.
Hingga saat ini, situasi di Selat Hormuz masih belum stabil. Meskipun Trump berulang kali menyatakan jalur tersebut hampir terbuka, serangan rudal dan drone sporadis dari Iran terus membayangi pasar minyak global dan keamanan pelayaran internasional. (The Wall Street Journal/I-2)

















































