Iran.(Freepik)
PEMERINTAH Iran merespons pembentukan Pakta Pertahanan Makkah yang ditandatangani Turki, Arab Saudi, dan Pakistan pada pekan lalu. Kesepakatan tersebut menjadi perhatian karena memiliki sejumlah ketentuan yang dinilai menyerupai prinsip pertahanan bersama dalam aliansi NATO.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei mengatakan terbentuknya pakta tersebut mencerminkan perubahan cara pandang negara-negara di kawasan terhadap peran Amerika Serikat dalam persoalan keamanan regional.
"Negara-negara di kawasan ini telah menyadari bahwa keamanan bukanlah komoditas yang bisa dibeli dari perantara palsu," kata Baghaei dilansir Anadolu pada Senin (10/8).
Menurut Baghaei, negara-negara kawasan kini tidak lagi dapat sepenuhnya mengandalkan jaminan keamanan yang selama ini diberikan Washington. "Negara-negara di kawasan ini tak bisa lagi mengandalkan klaim keamanan yang diberikan AS seperti di masa lalu," sebutnya.
Meski demikian, Baghaei menegaskan Iran tidak merasa terancam dengan kesepakatan tersebut. Ia mengatakan Teheran tidak melihat pakta itu sebagai bentuk aliansi yang secara khusus ditujukan untuk menghadapi Iran.
Baghaei juga menyoroti hubungan yang telah terjalin antara Iran dengan ketiga negara penandatangan, terutama dari aspek agama, sejarah, dan peradaban. "Tak ada yang khawatir bahwa perjanjian ini akan merugikan Iran," ungkap Baghaei.
Pakta Pertahanan dengan Klausul Mirip NATO
Turki, Arab Saudi, dan Pakistan menandatangani Pakta Pertahanan Makkah pada 7 Agustus. Kesepakatan tersebut menarik perhatian karena memuat klausul mengenai pertahanan bersama yang memiliki kemiripan dengan prinsip utama NATO.
Salah satu ketentuannya menyebut bahwa serangan terhadap salah satu negara anggota akan dipandang sebagai serangan terhadap ketiga negara yang menandatangani pakta.
Namun, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menegaskan kesepakatan tersebut tidak dibuat dengan tujuan menjadikan negara tertentu sebagai musuh atau ancaman bersama. "Tidak ada ancaman bersama yang kami tuangkan secara tertulis," ujar Fidan.
Fidan menjelaskan bahwa pakta tersebut juga tidak ditujukan untuk menghadapi negara mana pun selama negara tersebut tidak melakukan serangan terhadap salah satu pihak yang menandatangani kesepakatan.
Menurutnya, pembahasan mengenai pembentukan mekanisme kerja sama pertahanan tersebut sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Proses tersebut bahkan sudah dimulai sebelum pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Fidan juga menekankan karakter kebijakan luar negeri ketiga negara yang menurutnya tidak berorientasi pada ekspansi wilayah. "Mereka adalah negara-negara yang peduli dengan perbatasan mereka sendiri, masalah mereka sendiri, dan pembangunan mereka," sebut Fidan.
Pernyataan Iran dan Turki tersebut muncul di tengah perubahan dinamika keamanan di Timur Tengah. Pembentukan Pakta Pertahanan Makkah dinilai berpotensi menjadi salah satu perkembangan penting dalam konfigurasi keamanan regional, meskipun negara-negara penandatangan menegaskan kesepakatan tersebut tidak ditujukan untuk menghadapi Iran maupun negara tertentu lainnya. (Fer/P-3)

















































