Area perbatasan Maroko dan Ceuta.(Dok. AFP/Del Pozo)
WALI Kota Ceuta, Juan Jesus Vivas, mengungkapkan bahwa jumlah imigran asal Maroko yang masih bertahan di wilayah kantong Spanyol tersebut jauh lebih besar daripada data yang dirilis oleh Pemerintah Pusat Spanyol. Vivas menyebut angka imigran tanpa dokumen di wilayahnya saat ini diperkirakan mencapai 11.000 orang.
Pernyataan ini muncul menyusul gelombang kedatangan imigran besar-besaran yang terjadi pada akhir Juli lalu. Vivas menilai Pemerintah Spanyol telah meremehkan situasi di lapangan dengan hanya mengeklaim keberadaan ribuan migran dalam jumlah kecil.
"Pemerintah (Spanyol) mengeklaim bahwa 2.500 migran masih berada di Ceuta. Namun, data awal menunjukkan bahwa antara 8.000 hingga 11.000 orang masih berada di sana," ujar Jesus Vivas dalam sebuah video yang diunggah oleh kantor berita Europa Press di platform X, Minggu (9/8).
Situasi Belum Normal
Vivas menegaskan bahwa kondisi di enklave Spanyol yang terletak di pesisir Afrika Utara tersebut belum kembali normal. Lonjakan tajam arus masuk imigran dari negara tetangga, Maroko, pada pekan lalu telah memberikan tekanan signifikan pada fasilitas dan keamanan kota.
Terdapat perbedaan data yang cukup mencolok antara otoritas Spanyol dan Maroko terkait krisis migrasi ini:
- Pemerintah Spanyol: Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska menyatakan sekitar 72.000 migran memasuki wilayah tersebut, dengan klaim 70.000 di antaranya telah kembali ke Maroko.
- Pemerintah Maroko: Memperkirakan sekitar 40.000 orang telah memasuki Ceuta selama periode lonjakan tersebut.
- Wali Kota Ceuta: Menaksir masih ada 8.000 hingga 11.000 orang yang bertahan tanpa dokumen resmi.
Hingga saat ini, ketidakpastian mengenai jumlah pasti imigran yang masih berada di Ceuta terus memicu perdebatan mengenai efektivitas penanganan krisis migrasi di perbatasan Spanyol-Maroko tersebut. (Ant/Sputnik.H-3)

















































